Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Wanita Pembangkit Semangat Umat (Bagian 1)

0

Wanita ini bernama Maisun. Ia tinggal di Damaskus. Lahir pada tahun 607 H. Musibah yang dihadapi adalah seranagn dari pasukan Salib yang kedahsyatannya bagaikan angina topan yang menghancurkan apa saja. Pengorbanan yang dipersembahkan adalah kesyahidan empat saudaranya dalam perang suci telah mereka lakukan.

Apa yang bisa dilakukan oleh wanita dalam menghadapi pasukan seperti itu?

BACA JUGA: Syahidah Pertama dalam Sejarah Islam

Wanita tak melakukan banyak hal di medan perang. Tapi, ia bukan wanita yang seperti itu. Ia bukan wanita yang hanya berpangku tangan.

Keimanan di dadanya telah menjadikannya sebagai makhluk yang luar biasa. Segala sesuatu menjadi berubah. Keimanan yang ada pada dirinya tertancap begitu kuat dalam hati, sehingga dia merasa dari pundaknya akan tumbuh kekuatan dahsyat yang mampu menggoncang seluruh penjuru Damaskus.

Dari tenggorokannya keluar suara yang mampu membangkitkan orang mati. Dalam hatinya ada keteguhan iman yang tidak akan luntur dan semanagt yang tidak pernah hilang. Dia yakin bahwa dari puncaknya akan tumbuh satu kekuatan yang mampu menghancurkan besi dna meratakan benteng.

Para wanita datang berkumpul untuk melayat dan mengucapkan belasungkawa kepada Maisun. Pada saat itu ia berkata di hadapan mereka, “Kita tidak diciptakan sebagai lelaki yang memanggul senjata. Tapi, jika para lelaki menjadi pengecut untuk melakukan itu semua, maka kita bisa melakukan apa yang mereka lakukan. Demi Allah, rambutku adalah harta paling berharga yang aku miliki. Akan aku jadikan sebagai tali kekang kuda untuk berjihad di jalan Allah. Barang kali hal itu akan membuat meyat-mayat itu tergugah hatinya.”

Kemudian ia mengambil gunting dan memotong rambutnya. Setelah itu diikuti oleh wanita-wanita yang lain. Lalu mereka menganyam tali kekang kuda dengan rambut mereka dan mereka menyerahkannya kepada khatib masjid Umawi yang bernama Sabath ibn Jauzi.

BACA JUGA: Wanita di Perang Khandaq

Oleh Sabath, tali kekang itu dibawa ke masjid pada hari Jumat. Ia duduk di atas mimbar sambal menggenggam tali kekang. Air matanya meleleh membasahi wajahnya yang pucat pasi. Orang-orang memperhatikan dengan penuh keheranan.

Sumber: Bertansaksi dengan Allah/Karya: Khalid Abu Syadi/Penerbit: Qisthi Press/2005

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline