Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Wanita Cantik dan Pria Buruk Rupa

0

Al-Asma’i adalah seorang perdana menteri pada masa kekhalifahan Harun Ar-Rasyid. Suatu ketika, al- Asma’i pergi berburu di padang pasir. Di salah satu tempat, ia terpisah dengan rombongannya. Ketika itu, ia berada di tengah-tengah sahara dalam kehausan dan kepanasan. Lalu ia melihat sebuah rumah di tengah-tengah sahara.

Ia berjalan mendekati rumah itu. Tampaklah seorang wanita cantik memesona berdiam di dalam rumah itu. Wanita itu sendirian tanpa teman. Ketika melihat Al-Asmal datang, wanita itu mempersilahkan duduk di tempat yang agak jauh darinya.

Al- Asma’i berkata kepadanya, “Tolong beri aku air minum.”

Wajah wanita itu berubah, Ia berkata, “Sungguh, aku tidak bisa memberikan air minum kepadamu, sebab suamiku tidak mengizinkan aku untuk memberikan air minum kepada orang lain. Tetapi, aku punya bagian makan pagiku, yaitu susu. Aku tidak minum dan kau boleh meminumnya.”

Lalu al-Asma’i meminum susu itu dan wanita itu tidak berbicara kepadanya. Tiba-tiba ia melihat wanita itu berubah wajahnya. Dari kejauhan ia melihat ada sosok laki-laki mendekati rumah. Wanita itu berkata, “Suamiku telah datang.”

Wanita cantik itu mengambi air dan keluar dari rumahnya. Ternyata pria itu tua, berkulit hitam, dan buruk wajah. Laki-laki tua itu turun dari untanya, lalu membasuh dan kakiknya, dan membawanya masuk dalam rumah dengan penuh penghormatan. Namun laki-laki tua itu sangat buruk akhlaknya. Ia tidak menegur sedikitpun pada al-Asma’i.

Ia mengabaikan tamunya. Ia juga berkata kasar kepada istrinya. Melihat kejadian al-Asma’i menjadi sangat benci pada laki-laki tua itu. Ia berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari rumah itu. Wanita itu menghormati al-Asma’i dengan mengantarnya keluar.

Saat itu ia bertanya kepadanya, “Saya menyesali keadaanmu kamu, dengan segala kecantikan dan kemudaanmu, sangat tergantung pada orang seperti dia. Untuk apa kamu tergantung kepadanya? Apa karena hartanya? Sedangkan, ia orang miskin. Apa karena akhlaknya? Sedangkan akhlaknya sangat buruk. Atau kamu tertarik kepadanya karena ketampanannya? Padahal ia seorang tua yang buruk rupa. Mengapa kamu tertarik kepadanya?”

Wajah wanita itu pucat pasih. Lalu, ia berkata dengan suara amat keras, “Hai Asma’i, akulah yang menyesali keadaanmu. Aku tidak menyangka seorang perdana menteri Harun ar-Rasyid berusaha menghapuskan kecintaan di hatiku kepada suamiku dengan jalan menjelek-jelekkan suamiku!”

Ternyata, wanita itu ingin menyempurnakan setengah keimanannya dengan kesabaran setelah ia bersyukur akan kecantkan, kemudaan, dan kebaikan akhlaknya. Ia bersabar dengan mengabdikan seluruh hidupnya kepada suaminya, sebagai bukti ketaatannya pada perintah Allah. []

Sumber: The Miracle Of Ibadah/ Penulis: H. Amirulloh Syarbini, M. Ag/ Penerbit: Fajar Media Bandung, 2011

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline