Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Utsman bin Mazh’un: Kesenangan Surga Tak Akan Lenyap

0

Utsman bin Mazh’un keluar dari rumah dengan niat yang bulat’ dan tekad yang pasti hendak menanggalkan perlindungan yang dipikul Walid. Selama itu perlindungan tersebut telah menjadi penghalang baginya untuk dapat menikmati derita dijalan Allah dan kehormatan senasib sepenanggungan bersama saudaranya Kaum Muslimin. Kaum Muslimin merupakan tunas-tunas dunia beriman dan generasi alam baru yang esok pagi akan terpancar cahaya keseluruh penjuru, cahaya keimanan dan ketauhidan.

Ketika Utsman bin Mazh’un menyaksikan penderitaan yang dialami oleh para sahabat Rasulullah SAW, sementara ia sendiri pulang pergi dengan aman dan tenteram disebabkan perlindungan Walid bin Mughirah.

Ia berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya mondar-mandirku dalam keadaan aman disebabkan perlindungan seorang tokoh golongan musyrik, sedang teman-teman sejawat dan kawan-kawan seagama menderita adzab dan siksa yang tidak kualami, merupakan suatu kerugian besar bagiku.’

Lalu ia pergi mendapatkan Walid bin Mughirah, “Wahai Abu Abdi Syams, cukuplah sudah perlindungan anda….”

“Kenapa wahai keponakanku?” ujar Walid, “Mungkin ada salah seorang anak buahku yang menggangumu?”

‘Tidak”, ujar Utsman, “Hanya saya ingin berlindung kepada Allah, dan tak suka lagi kepada lain-Nya!”

Karenanya pergilah anda ke mesjid serta umumkanlah maksudku ini secara terbuka seperti anda dahulu mengumumkan perlindungan terhadap diriku!”

Lalu pergilah mereka berdua ke mesjid, maka kata Walid, “Utsman ini datang untuk mengembalikan kepadaku jaminan perlindungan terhadap dirinya.”

Utsman seorang yang memegang teguh janjinya, ia pun berkata, “Hanya keinginan saya agar tidak lagi mencari perlindungan kecuali kepada Allah Ta’ala…!”

Setelah itu Utsman pun berlalu, sedang di salah satu gedung pertemuan kaum Quraisy, Lubaid bin Rabi’ah menggubah sebuah sya’ir dan melagukannya di hadapan mereka, hingga Utsman jadi tertarik karenanya dan ikut duduk bersama mereka.
Kata Lubaid, “Ingatlah bahwa apa juga yang terdapat di bawah, kolong ini selain daripada Allah adalah hampa!”

“Benar ucapan anda itu”, kata Utsman menanggapinya.

Kata Lubaid lagi, “Dan semua kesenangan, tak dapat tiada lenyap dan sirna!”

“Itu dusta!” kata Utsman, “Karena kesenangan surga tak akan lenyap.”

Kata Lubaid, “Hai orang-orang Quraisy! Demi Allah, tak pernah aku sebagai teman duduk kalian disakiti orang selama ini. Bagaimana sikap kalian kalau ini terjadi?”

Maka berkatalah salah seorang di antara mereka, “Si toloI ini telah meninggalkan agama kita. Jadi tak usah digubris apa ucapannya!”

Utsman membalas ucapannya itu hingga di antara mereka tejadi pertengkaran. Orang itu tiba-tiba bangkit mendekati Utsman lalu meninjunya hingga tepat mengenai matanya, sementara Walid bin Mughirah masih berada di dekat itu dan menyaksikan apa yang terjadi.

Maka katanya kepada Utsman, “Wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa, maka sungguh, benteng perlindunganmu amat tangguh…!”

Ujar Utsman, “Tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat membutuhkan pula pukulan yang telah dialami saudaranya di jalan Allah! Dan sungguh wahai Abu Abdi Syamas, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu!”

“Ayuhlah Utsman,” kata Walid pula, “Jika kamu ingin, kembalilah masuk ke dalam perlindunganku…!”

“Terima kasih!” ujar Ibnu Mazh’un menolak tawaran itu.

Ibnu Mazh’un meninggalkan tempat itu, tempat terjadinya peristiwa tersebut dengan mata yang pedih dan kesakitan, tetapi jiwanya yang besar memancarkan keteguhan hati dan kesejahteraan serta penuh harapan.

Di tengah jalan menuju rumahnya dengan gembira ia mendendangkan pantun,
“Andaikata dalam mencapai ridla Ilahi
Mataku ditinju tangan jahil orang mulhidi
Maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya
Karena siapa yang diridlai-Nya pasti berbahagia
Hai ummat, walau menurut katamu daku ini sesat
Daku ‘kan tetap dalam Agama Rasul, Muhammad
Dan tujuanku tiada lain hanyalah Allah dan Agama yang haq
Walaupun lawan berbuat aniaya dan semena-mena.” []

Sumber: Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah/ Penulis : Khalid Muhammad Khalid/ Penerbit : CV Diponegoro Bandung, 2006

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline