Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Umar Bin Abdul Aziz Ingin Seperti Kakeknya

0

Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah kedelapan Daulah Umayah. Dalam catatan sejarah, ia dikenal sebagai Umar kedua (Umar pertama adalah Umar bin Khattab) lantaran kebijaksanaan, keadilan, kejujuran serta kesederhanaannya.

Nama lengkapnya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Harb bin Umayah. Ayahnya Abdul Aziz pernah menjadi Gubernur di Mesir selama beberapa tahun. Ia masih keturunan Umar bin Khattab melalui jalur keturunan ibunya, Laila Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khattab.

Ketika masih kecil Umar bin Abdul Aziz sering berkunjung ke rumah paman ibunya, Abdullah bin Umar bin Khattab. Setiap kali pulang ia selalu mengatakan kepada ibunya bahwa ia ingin seperti kakeknya. Ibunya mengatakan bahwa ia kelak akan hidup seperti kakeknya itu, sebagai seorang ulama yang wara’ dan zuhud.

Umar menghabiskan sebagian besar hidupnya di kota Madinah. Ketika ayahnya Abdul Aziz wafat, khalifah Abdul Malik bin Marwan memanggilnya ke Damaskus dan menikahkan dengan putrinya, Fatimah. Pada masa pemerintahan khalifah Walid bin Abdul Malik Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai Gubernur Hijaz. Saat itu usianya masih 24 tahun. Saat masjid Nabawi dibongkar untuk diperbaiki, Umar bin Abdul Aziz dipercaya sebagai pengawas pelaksanaannya.

Langkah-langkahnya yang bisa dicontoh adalah membentuk dewan penasehat yang beranggotakan sekitar 10 orang ulama terkemukan saat itu. Bersama merekalah Umar mendiskusikan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Karena beberapa tindakannya yang sangat berani memberantas kezaliman, atas hasutan Hajjaj bin Yusuf dan orang-orangnya, Umar diberhentikan dari jabatannya sebagai gubernur. Namun ketika khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berkuasa, ia kembali diangkat sebagai sekretaris Negara.

Meskipun pernah menjabat sebagai gubernur dan sekretaris negara, Umar tidak pernah berambisi menjadi khalifah. Ketika khalifah Sulaiman sakit, sedangkan putra mahkotanya, Ayyub meninggal lebih dahulu, ia minta pertimbangan dan pendapat kepada Raja’ bin Haiwah. Saat itu Raja’ mengusulkan nama Umar bin Abdul Aziz. Padahal dalam suatu kesempatan, Umar pernah menolak untuk dinobatkan sebagai khalifah.

Ternyata tanpa sepengetahuan Umar, sang khalifah sudah membuat kesepakatan untuk mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah dan Yazid bin Abdul Malik sebagai khalifah sesudahnya.

Dia memerintah dalam waktu yang sangat singkat, yaitu hanya selama dua setengah tahun (29 bulan), tetapi kebijakan yang ia buat sungguh sangat berjasa bagi kejayaan umat Islam. Dia telah mengubah dunia. Dialah yang memulai menerapkan syariat Islam secara utuh dengan meminta bantuan kepada para ulama seperti Hasan Al-Bashri. Pada masa pemerintahannya, hadis-hadis mulai dibukukan.

Related Posts

Tidak Melihat lagi Umar Tersenyum

Dia juga mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap perkembangan berbagai disiplin ilmu, seperti kedokteran. Dan lain-lain. Dialah yang mengusulkan memindahkan sekolah kedokteran di Iskandariyah Mesir ke Antiochia, Turki. Ia juga bersikap lunak terhadap musuh-musuh politiknya. Dia juga melarang keras kaum muslimin mengecam Ali bin Abi Thalib.

Untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, ia mengirim utusan ke berbagai daerah untuk memantau kerja para gubernur. Jika menemukan penyimpangan, Umar tidak segan-segan memecatnya, seperti yang ia lakukan terhadap Yazid bin Abi Muslim, gubernur Afrika Utara, dan Shalih bin Abdurrahman, gubernur Irak. Ia juga mengembalikan tanah-tanah rakyat yang dirampas para penguasa.

Dalam bidang militer, ia tidak begitu manaruh perhatian untuk membangun kekuatan angkatan perang. Ia lebih mengutamakan kemakmuran kehidupan masyarakat. Karena itulah, ia memerintahkan Maslamah untuk menghentikan pengepungan Konstantinopel dan penyerbuan ke Asia Kecil.

Dalam bidang ekonomi, ia membuat kebijakan yang bisa melindungi rakyat kacil. Pada masa pemerintahannya, orang-orang kaya membayar zakat sehingga kemakmuran benar-benar merata. Konon, saat itu sangat sulit untuk menemukan para penerima zakat lantaran kemakmuran begitu merata di seluruh negeri.

Dalam melaksanakan setiap kebijakan, ia selalu berada yang terdepan. Sebelum menyuruh orang lain berlaku hidup sederhana, ia lebih dahulu hidup sederhana. Sebelum menjadi khalifah, Umar biasa mengenakan pakaian yang bagus. Namun setelah menjabat sebagaiu khalifah, keadaannya justru terbalik. Ia menolak berbagai fasilitas kerajaan. Bahkan harta milik peribadinya dijual dan uangnya dimasukkan ke Baitul Mal.

Salah satu buktinya adalah Umar tidak mau menggunakan fasiltas Negara, seperti kejadian dengan putranya. suatu malam ketika ia sedang berada di kantor untuk urusan Negara, putranya datang. Begitu ia tahu bahwa putranya ingin membicarakan masalah keluarga, Umar memadamkan lampu yang ia gunakan. Akhirnya keduanya berbincang-bincang dalam kegelapan.

Ketika tindakannya itu ditanyakan oleh putranya, dengan mantap Umar menjawab bahwa mereka sedang membicarakan masalah keluarga, sedangkan lampu yang mereka gunakan adalah milik negara.

Karena kebijakan dan keadilannya itulah, Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin yang kelima atau Umar kedua setelah Umar bin Khattab. []

Baca juga: Aku Ingin Tetap Hidup Supaya Bisa Bertobat

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline