Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Turunnya Firman Allah, Surah Al-Baqarah Ayat 217

0

Panglima perang yang pertama kali dilantik Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah Abdullah bin Jahsy. Ia berasal dari suku Bani Asad. Dilahirkan di Makkah dan tumbuh dewasa di sana. Abdullah bin Jahsy melihat sendiri tatkala orang berbondong-bondong mendatangi Ka’bah dan berdoa di sana. Temasuk peristiwa berebutnya para kabilah Arab yang ingin meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya.

Dari kejadian itulah Abdullah bin Jahsy kemudian melihat sendiri bagaimana seorang pemuda bijaksana dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Sesuai kesepakatan para kabilah bahwasanya yang akan meletakkan Hajar Aswad itu ialah orang pertama yang memasuki Ka’bah di keesokan hari. Ketika melihat bahwa pemuda itulah yang menjadi orang pertama, semua kabilah setuju lkarena telah mengenal kebaikan dan kejujuran pemuda tersebut. Pemuda itu tak lain adalah Rasulullah.

BACA JUGA: Aku Ingin Menjadi Salah Satu Penghuninya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memikat hati penduduk Madinah dengan kearifannya, tak terkecuali Abdullah bin Jahsyi. Ia sangat mengagumi Muhammad dan senantiasa menyertai dan banyak belajar pada beliau.

”Bismillahirrahmanirrahiim. Amma ba’du, pergilah engkau bersama pasukanmu dan berkah Allah akan selalu menyertai kalian. Pergilah hingga nantinya kalian menemukan sebuah ladang kurma dan setelah itu berhentilah di sana. Dari kebun itulah, kalian bisa mengintai kegiatan kafilah Quraisy. Setelah itu, kembalilah dengan membawa kabar tentang keadaan dan situasi mereka.”

Demikian surat yang dibacakan Abdullah bin Jahsy di hadapan pasukannya. Sesuai pesan Rasulullah, pemberi surat tersebut, ia baru boleh membacanya setelah menempuh perjalanan selama dua hari. Bersama pasukannya yang terdiri dari 12 orang, mereka ditugaskan oleh Rasulullah untuk mejalankan sebuah misi.

“Bagaimana menurut kalian?” tanya Abdullah menyerahkan keputusan selanjutnya kepada teman-temannya.

Yakni keputusan untuk memilih mundur ataukah melanjutkan misi itu. Sebagaimana yang dipesankan Rasulullah sebelumnya agar tidak ada yang memaksa kawan-kawannya sekiranya ada di antara mereka yang ingin mundur. Tapi rupaya semua sepakat untuk melanjutkan.

BACA JUGA: Sebab Turunnya Surat Yasiin Ayat 77-83

Ditengah perjalanan, mereka melihat rombongan kafilah Quraisy. Abdullah bin Jahsyi kemudian mengajak anggotanya untuk berembuk, apakah mereka akan menyerang kafilah datang tersebut atau membiarkannya begitu saja.

Jika menyerang, sesungguhnya waktu itu tidaklah tepat karena saat itu mereka berada di bulan haram, Rajab. Saat dimana kaum muslimin diharamkan berperang. Sementara, jika membiarkan begitu saja, maka kafilah itu akan memasuki daerah Haram (Makkah) dan setelah itu mereka tidak dapat melakukan apa-apa.

Setelah memperhitungkan berbagai kemungkinan, akhirnya mereka sepakat memutuskan untuk menyerang kafilah tersebut.

Akhirnya mereka dapat mengalahkan rombongan kafilah Quraisy itu, lalu kemudian kembali ke Madinah  dengan membawa harta rampasan perang beserta tawanan.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang tau akan hal ini sangat menyesalkan perbuatan mereka, bahkan beliau marah karena menugaskan pasukan itu hanya untuk mengintai, dan bukan melakukan penyerangan. Apalagi, kaum Quraisy yang mengetahui kejadian itu langsung menjadikannya alat untuk menjatuhkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan Kaum Muslimin. Hingga akhirnya mereka terus menyebarkan berita bahwa kaum Muslimin telah menodai kesucian bulan haram.

Abdullah bin Jahsy beserta pasukannya kemudian menyesal dan sangat sedih dengan kenyataan yang ada, ia menyesali itu karena telah menyusahkan Rasulullah dan kaum Muslimin yang lain. Sungguh, ia tidak bermaksud untuk itu.

BACA JUGA: Kecemburuan Hafshah, Menjadi Sebab Turunnya Ayat Ini

Akhirnya Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya, “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2] Ayat : 217). []

Sumber: Para Abdullah di sekitar Rasulullah/Kasya: Haeriah Syamsuddin/Penerbit: Khazanah Intelektual/2013

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline