Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tes Tiga Filter dari Seorang Ulama

0

Pada zaman kekhalifahan Abbasiyah, ada seorang ulama di Baghdad, ibukota kekhalifahan islam pada waktu itu, yang terkenal dengan keilmuannya yang tinggi.

Suatu hari, seorang kenalan bertemu dengan ulama besar itu dan berkata, “Apakah Anda tahu, apa yang baru saya dengar tentang teman Anda?”

“Tunggu sebentar,” jawab ulama itu.

“Sebelum mengatakan apa pun, saya ingin Anda menjalani sebuah tes yang kecil. Ini disebut tes `tiga filter’.”

“Tiga filter?”

“Benar,” ulama itu melanjutkan. “Sebelum Anda berbicara kepadaku mengenai temanku, mungkin merupakan ide yang bagus untuk merenung sejenak dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itu sebabnya saya menyebutnya tes ‘Tiga filter’. Saringan atau filter pertama adalah kebenaran. Apakah Anda sudah benar-benar yakin bahwa apa yang akan Anda katakan kepadaku adalah benar?”

“Tidak,” kata lelaki itu, “Sebenarnya saya hanya mendengar tentang hal itu dari orang lain dan…”

“Baiklah,” kata sang ulama. “Jadi, Anda tidak benar-benar tahu apakah itu benar atau tidak. Sekarang, mari kita coba filter kedua, yaitu filter kebaikan. Apakah yang akan Anda ceritakan tentang temanku itu adalah sesuatu yang baik?”

“Tidak, tetapi sebaliknya.”

Ulama itu melanjutkan, “Anda ingin mengatakan sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar atau tidak. Anda mungkin masih bisa lulus ujian, karena ada satu filter lagi, yaitu filter kegunaan. Apakah yang akan Anda ceritakan tentang temanku itu akan bermanfaat bagiku?”

“Tidak. Tidak sama sekali.”

“Baiklah,” ulama itu menyimpulkan, “Jika apa yang ingin Anda beritahukan kepadaku adalah tidak benar dan tidak baik atau bahkan tidak berguna, maka jangan mengatakannya kepadaku!”

Allah Swt berfirman dalam Al-Quran, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs al-Hujurat. [49]: 12). []

Sumber: Manisnya Kopi Asin, Merajut Hati Meraih Kebahagiaan Hakiki/Penulis: Irwan Kurniawan/Penerbit: Majlis Ta’lim Ibadurrahman,2011

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline