Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tatkala Umar bin Khattab Hendak Menggusur Rumah Paman Rasulullah

0

Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, tahun 17 Hijriyah, beberapa tiang masjid Nabawi terlihat keropos. Maka terlintaslah di benak Umar suatu gagasan untuk merenovasi masjid Nabawi, apalagi Umar melihat semakin banyaknya umat jumlah umat muslim di Madinah.

Dan karena keperluan itu, Umar pun mengutarakan keinginannya untuk membebaskan rumah paman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, al-Abbas bin Abdul Muttalib. “Sesungguhnya aku ingin aku mendengar Rasulullah berwasiat sebelum beliau wafat, ‘Sesungguhnya aku ingin memperluas masjid kita’, sedangkan rumahmu sangat dekat dengan masjid wahai Abbas. Maka, berikanlah rumahmu dan akan kami ganti dengan rumah dan tanah yang lebih luas.”

Mendengar gagasan Umar ini Abbas berkata, “Aku tidak akan melakukannya.”

“Kalau begitu, aku akan mengambil rumahmu dengan paksa wahai Abbas.”

“Itu bukan hakmu wahai Umar, marilah cari penengah atas hal ini.”

“Siapakah yang kau pilih wahai Abbas?”

“Aku memilih Hudzaifah bin al Yaman.”

Hudzaifah bin al-Yaman sendiri adalah seorang penasehat kekhalifahan Umar.

Ketika mereka berdua bertemu Hudzaifah dan mengutarakan kepentingannya masing-masing, maka Hudzaifah memberikan pendapatnya.

“Sesungguhnya Nabi Daud pernah hendak memperluas Baitul Maqdis. Sehingga ia menemukan sebuah rumah yang dekat dengan Baitul Maqdis. Rumah itu adalah kepunyaan seorang yatim. Celakanya, yatim tersebut tidak berkenan menyerahkan rumahnya. Daud pun mendapatkan rumah tersebut dengan paksa. Sampai Allah berfirman, ‘Sesungguhnya rumah yang bersih dari kezaliman adalah rumah-Ku’. Maka Daud pun mengembalikan rumah tersebut kepada sang yatim.”

Demi mendengar cerita tersebut, Umar dan Abbas terdiam.

“Wahai Umar, apakah kau masih ingin mengambil rumahku?” Tanya Abbas sembari memandang wajah Umar.

“Sungguh, tidak lagi.”

“Wahai Umar, sekarang aku telah menyerahkan rumahku untuk perluasan masjid.”

Masa itu perluasan masjid Nabawi terjadi di tiga sisinya, yakni sekira 5 meter ke arah selatan, 10 meter ke arah barat dan 15 meter ke arah utara. Khalifah Umar tidak memperluas Masjid Nabawi ke arah timur, karena kamar-kamar istri Rasulullah berada di sebelah timur Masjid Nabawi.

Umar juga memasang batu kerikil di lantai Masjid Nabawi yang sebelumnya hanya berlantai tanah, sehingga Masjid Nabawi terlihat sangat rapi dan bersih.

Wallahu A’lam.

Baca juga: Saat Umar bin Khattab Berkunjung ke Suriah

Sumber: Jejak Khulafaur Rasyidin Umar bin Khatab/Penulis: Sami bin Abdullah al Maghlouth/ Serta Bersumber: Kisah Hidup Umar bin Khattab/Penulis: Dr. Musthafa Murad

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline