Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tatkala Rasulullah Menghilang di Hadapan Utusan

0

Perkembangan Islam tumbuh dengan segala peristiwa suka duka, memasuki tahun ke 9 Hijriah nama Kaum Muslimin semakin harum apalagi dengan kemenangan-kemenangannya dalam perang. Maka dari itu semakin banyak negeri tetangga yang mengirimkan utusan, bahkan hampir seluruh jazirah Arab.

OIeh karenanya tahun ke 9 Hijriah dikenal dengan sebutan “Tahun Utusan” atau disebut juga “Amul wufud”. Namun ternyata tidak selamanya semua utusan yang datang kepada Rasulullah bermaksud baik, karena ada seperti yang bernama Amir ibnuth-Thufail malah bermaksud membunuh beliau dalam pertemuan tersebut.

la bersekongkol dengan lbad bin Qays. la merupakan utusan wakil dari Bani Amir yang memang sudah sejak lama tidak merasa senang dengan ajaran Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, bahkan sangat benci sekali. Rencana busuk itu dilaksanakan lbad dan Amir pada saat mereka telah berhadapan dengan Rasulullah dalam sebuah ruangan dan sedang membicarakan masalah-masalah agama Islam.

Pada saat yang ditentukan Amir dan lbad memberi suatu isyarat rahasia supaya melakukan rencana dengan segera. lbad yang mengetahul isyarat dari Amir segera bergerak membelakangi RasuIullah Shalallahu alaihi wassalam untuk membunuh beliau. Ketika lbad sudah ada di belakang Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, pedang yang ada di tangannya pun tinggal dibacokkan ke arah beliau, namun Amir melihat jelas wajah teman sekongkolnya yang tampak tercengang dan kebingungan.

lbad seperti sedang mencari-cari buruannya yang mendadak hilang, maka pedang yang di tangannya pun gagal mandi darah. Ketika mereka berdua ada di luar ruangan, hal itu tentu dipertanyakan oleh Amir bin Thufail dengan nada yang marah, “Mengapa engkau tidak membunuhnya, hai penakut?”

lbad yang tak sudi disebut penakut, ganti menjawab, “Hai Amir, bukannya aku takut! Bukankah kamu juga telah tahu keberanianku?”

“Lalu kenapa engkau tidak jadi membunuh Muhammad?” tanya Amir yang penasaran.

“Hai Amir! Sesungguhnya aku telah mengalami keajaiban yang luar biasa, setiap kali pedangku akan kuayunkan ke arahnya, tiada yang kulihat kecuali engkau seorang. Sedang aku sama sekali tidak melihat Muhammad. Apakah engkau mau kubabat dengan pedangku?” tanya lbad.

“Muhammad itu ada di depanmu,” bentak Amir.

“Benar, memang Muhammad ada di depanku. Tapi setiap aku hendak memukulkan pedangku, hanya engkaulah yang terlihat di depan mataku. Daripada nanti aku membunuhmu maka aku mengurungkan niatku!”

Kejadian ini hanya bentuk kecil dari banyaknya kejadian yang menunjukan Kebesaran Allah, perlindungan sebagai wakil dari rasa kasih terhadap Nabiyullah Muhammad Shalallahualahi wassalam. []

Sumber: Raja Dalam Gentong/ Penulis: Great Kids/ Penerbit: Galang Press, 2010

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline