Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tatkala Kematian Manshur, Seratus Kuburan Digali di Dekat Mekkah

0

Setelah berkuasa selama dua puluh dua tahun, Abu Ja’far Abdullah al-Manshur meninggal dalam usia enam puluh lima pada 21 Oktober 775, dekat Mekkah, karena terlempar dari kuda perangnya yang perkasa saat kuda itu terguling di sebuah lereng gunung yang curam. Sebagian orang menuturkan bahwa kesehatannya memang sudah mulai menurun dan dokternya sudah mendapati bukti adanya sejenis penyakit mematikan.

Walaupun dirinya adalah orang yang menggentarkan, kesemuan kekuasaan duniawi berhasil juga membuatnya menderita—seperti kebanyakan khalifah juga tampak menderita, pada masa hidup mereka.

Suatu hari dia berbincang dengan Rabi’ bin Yunus, yang melayaninya sebagai “Hajib” atau kepala rumah tangga istana (yang mengatur akses terhadap khalifah secara langsung), dan kemudian sebagai perdana menteri atau wazir.

Manshur berkata, “Betapa indahnya dunia, wahai Rabi’, kalau saja tidak ada kematian.”

“Sebaliknya,” jawab Rabi’, “dunia tidak akan indah kalau bukan karena kematian.”

“Bagaimana bisa begitu?” tanya sang khalifah.

“Kalau bukan karena kematian, Anda tidak akan duduk di singgasana itu.”

“Benar,” balas sang khalifah.

Namun bertahun-tahun kemudian, ketika kematian mendekat dan kengerian yang tersembunyi menghantuinya karena beberapa kesalahan yang ia lakukan, Manshur berkata padanya, “Wahai Rabi’! Kita telah mengorbankan dunia hanya untuk mencapai mimpi belaka!”

Ketika mimpi itu usai, dia ditemani oleh seorang cucu dan beberapa pembantu tertingginya. Untuk merahasiakan kematiannya, Rabi’ mengingatkan para perempuan dalam rombongan khalifah agar tidak berkabung atas kemangkatannya secara terbuka, dan dalam sebuah muslihat yang dirancang untuk melindungi hak suksesi putranya, ia menyandarkan jenazah khalifah di sebuah kursi dalam tenda kerajaan di balik sehelai tirai tipis dan meminta semua anggota keluarga Abbasiyah memperbarui sumpah setia mereka ketika mereka dipanggil.

Kematian Manshur kemudian disiarkan, dan malam itu dia dikebumikan di gurun, dalam satu dari seratus makam yang digali di dekat Mekkah untuk membingungkan upaya menemukan dan menistakan tulang-belulangnya. Dengan begitu makamnya hilang di tengah padang pasir untuk selamanya. []

Sumber: Kejayaan Sang Khalifah Harun ar-Rasyid: Kemajuan Peradaban Dunia pada Zaman Keemasan Islam/ Penulis: Benson Bobrick/Penerbit: Alvabet,2012

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline