Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tatkala Kaisar Romawi dan Persia Hidup Bergelimang Harta dan Kemewahan

0

Dialah Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, sang pemimpin terbaik dunia, sepanjang masa. Memang, sebagai manusia biasa, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, butuh pemenuhan kebutuhan hidup, dari makan, minum, bersosialisasi, hingga berkeluarga dan meneruskan keturunan. Layaknya manusia biasa, beliau juga memiliki anatomi fisik seperti orang-orang kebanyakan. Menurut Ali bin Abi Thalib ra., “Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah tinggi tetapi juga tidak pendek. Telapak tangan dan kaki beliau padat berisi. Beliau memiliki kepala yang agak besar dan kuat. Bulu-bulu halus tumbuh di dada sampai pusar beliau. Jika berjalan, beliau melangkah seperti turun (meloncat) dari suatu ketinggian.”

Meskipun manusia biasa, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, tetaplah seorang utusan yang memiliki perbedaan dan keistimewa-an dibandingkan manusia lain. Salah satunya adalah ke-luhuran budi pekerti beliau yang luar biasa, tiada banding. Jika dihina, dicaci, dan dianiaya orang lain, umumnya kita akan membalas dengan perlakuan serupa bahkan Iebih. Akan tetapi, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah menghina, menghasut, membenci, dan membalas keburukan orang lain apalagi menzalimi mereka.

Selama hidup, rasul mulia ini selalu berada dalam fase perjuangan. Ketika kecil beliau hidup sebatang kara. Ketika dewasa, beliau menyebarkan dakwah hampir ke seluruh penjuru dunia. Beliau melalui tahap demi tahap perjuangan, seakan-akan setiap napas beliau adalah untuk berjuang menegakkan kalimatullah di muka bumi. Hebatnya, meski menjadi penguasa, beliau bukanlah orang yang merasa berkuasa apalagi haus kekuasaan. Suatu kali ada sahabat menemui beliau lalu mengucapkan, “Engkau adalah sayyid (penguasa) kami.”

Related Posts

Gambaran Perjalanan Hidup dari Rasulullah

Seketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, menimpali, ‘Assayyidullaahu Tabaaraka wa Ta’ala. Sayyid (penguasa) kita adalah Allah Tabaaraka wa Ta’ala.”

Beliau menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan dan sering kali kekurangan. Tatkala Kaisar Romawi dan Persia hidup bergelimang harta dan kemewahan, manusia mulia ini justru kerap merasakan perut yang lapar karena belum makan selama beberapa hari. Anas bin Malik ra., bercerita, “Tidak pernah Rasulullah duduk menghadapi meja makan yang penuh hidangan sampai beliau wafat. Tidak pernah beliau makan roti enak dan lembut sampai wafat.” []

Sumber: Betapa Rasulullah Merindukanmu/Penulis: Abdillah F. Hasan/Penerbit: Quanta

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline