Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Sumber Penghidupan Putra Umar bin Abdul Aziz

0

Umar bin Abdul Aziz pernah mengumpulkan para Qari (ahli baca Al-Quran) dan para ulama ahli fikih negeri Syam. Saat itu, ia berkata, “Sesungguhnya aku memanggil kalian untuk menangani kezaliman yang saat ini ada di tengah-tengah keluargaku. Bagaimana pandangan kalian?”

Mereka berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya hal itu tidak termasuk wilayah wewenangmu. Dosa-dosa atas tindakan kezaliman itu sepenuhnya berada di pundak orang yang mengambilnya secara tidak benar (merampasnya).”

Rupanya Umar belum puas dengan jawaban tersebut, lalu melirik ke salah seorang di antara mereka yang tidak sependapat dengan mereka, seraya berkata, “Panggillah Abdul Malik ke sini, karena dia mempunyai ilmu yang cukup, pemahaman fikhnya dan daya nalarnya hampir sama dengan orang-orang yang kita undang.”

Ketika Abdul Malik datang, Umar bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu tentang harta orang-orang yang diambil anak-anak paman kita secara zalim, sedangkan para pemiliknya datang dan meminta kembali kepada kita, dan kita tahu bahwa harta itu memang hak mereka.”

Abdul Malik menjawab, “Menurutku, hendaknya Ayah mengembalikan harta itu kepada para pemiliknya selama Ayah mengetahui permasalahannya, jika tidak, berarti ayah juga termasuk orang-orang yang mengambil harta orang lain secara zalim.”

Seluruh rongga jiwa sang Khalifah, terasa lega dan apa yang selama ini menghantuinya hilang.

Abdul Malik ini lebih menyukai Murabathah (berjaga-jaga di perbatasan dari serangan musuh) dengan tinggal di salah satu kota yang dekat dengan perbatasan ketimbang menetap di Negeri Syam. Dia rela menetap di sana sementara di belakangnya kota Damaskus yang bertaman indah, naungan yang rimbun dan memiliki tujuh sungai, dia tinggalkan begitu saja.

Sekalipun sang ayah telah mengetahui kesalehan dan ketaqwaan anaknya, ia masih saja mengkhawatirkan dan merasa kasihan kalau-kalau dia bisa luluh oleh godaan setan dan gejolak jiwa muda, serta antusias untuk mengetahui segala-galanya tentang dirinya tersebut selama dia masih bisa mengetahuinya. Ia tidak pernah melakukan hal itu.

Maimun bin Mihran, seorang menteri, Qadhi sekaligus penasihat Umar bin Abdul Aziz, pernah bercerita, “Sewaktu menemui Umar bin Abdul Aziz, saya melihat ia sedang menulis surat kepada anaknya, Abdul Malik. Dalam surat itu ia menasihati, memberikan pengarahan, peringatan, dan berita gembira.

“Sesungguhnya, engkaulah orang yang paling pantas untuk menangkap dan memahami ucapanku. Segala puji bagi Allah SWT, Dia telah berbuat baik kepada kita dari semua urusan. Ingatlah karunia Allah kepadamu dan kepada kedua orang tuamu. Jangan sekali-kali berlagak dan berlaku sombong dan berbangga diri, karena hal itu termasuk perbuatan setan. Syetan adalah musuh bagi orang-orang beriman. Ketahuilah aku mengirimkan surat ini, bukan karena ada laporan tentang dirimu. Aku tidak mengetahui tentangmu kecuali hal-hal yang baik. Namun demikian, telah sampai laporan kepadaku bahwa perihal tindakanmu yang suka berbangga diri. Seandainya kebanggaan itu menyeretmu kepada sesuatu yang aku benci, tentu engkau akan mendapatkan sesuatu yang engkau benci.”

Maimun selanjutnya menceritakan, “Kemudian Umar menoleh kepadaku seraya berkata, “Wahai Maimun sesungguhnya anakku, Abdul Malik, selalu menghiasi mataku dan aku menuduh diriku telah melakukan hal itu. Karenanya, aku khawatir kalau rasa cintaku padanya telah melebihi pengetahuanku tentang dirinya sehingga apa yang menimpa nenek moyangku dulu yang buta terhadap aib anak-anaknya menimpa diriku juga. Awasi dan carilah informasi yang akurat tentang dia. Perhatikan apakah ada pada dirinya sesuatu yang mengarah pada kesombongan dan berbangga diri. Karena dia masih anak-anak dan aku belum dapat menjamin dirinya bisa terhindar dari godaan setan.”

Maimun segera berangkat menemui Abdul Malik, ternyata dia adalah seorang anak yang baru menginjak remaja dan masih sangat muda, tapi memiliki pandangan yang ceria dan rendah hati. Maimun bertemu Abdul Malik. Dia berkata, “Aku sudah mendengar ayah sering berbicara tentang dirimu dan memang pantas engkau menyandangnya, yaitu engkau orang yang baik. Lalu setelah itu aku bertanya tentang keadaannya.”

Dia menjawab dengan ceria, “Senantiasa dalam keadaan baik dan mendapatkan nikmat dari Allah swt. Hanya saja aku khawatir jika persangkaan baik ayah terhadapku membuat aku terbuai, sementara yang sebenarnya aku belum mencapai keutamaan sebagaimana yang ayah sangka itu. Sungguh aku khawatir kalau kecintaan ayah padaku telah melabihi pengetahuannya tentang diriku, sehingga aku malah menjadi bebannya.”

Mendengar jawaban itu, Aku (Maimun) jadi terkagum-kagum kenapa bisa terjadi kecocokan hati di antara keduanya. Kemudian Maimun bertanya padanya, “Tolong beri tahu aku darimana sumber penghidupanmu?”

Dia menjawab, “Dari hasil tanah yang aku beli dari seseorang yang mendapat warisan dari orang tuanya. Aku membayarnya dengan uang yang bukan syubhat sama sekali. Sehingga aku tidak membutuhkan lagi harta Fai’ (yang didapat tidak melalui peperangan kaum muslimin).”

“Apa makananmu?” Maimun bertanya lagi.

“Terkadang daging, terkadang Adas (sejenis kacang), minyak, terkadang Cuka dan minyak. Itu sudah cukup.” Sahutnya.

“Apakah engkau tidak merasa bangga dengan dirimu sendiri?” tanya Maimun.

“Pernah aku merasakan sedikit hal semacam itu, namun ketika ayah memberikan nasehat kepadaku, dia berhasil membuka mataku akan hakekat diriku dan menjadikannya kecil bagiku dan jatuh harkatnya dimataku. Akhirnya Allah swt menjadikan nasehat itu sangat bermanfaat bagi diriku. Semoga Allah membalas kebaikan ayahku.”

Beberapa jam ngobrol bersama Abdul Malik, Maimun merasa belum pernah melihat pemuda tampan, anak seorang Khalifah, sempurna otak dan daya nalarnya dan mempunyai akhlak yang luhur, dalam usia semuda itu.

Ketika sudah siang, pembantunya datang sambil berkata, “Kami sudah kosongkan!” lalu dia diam….

Maimun bertanya kepadanya, “Apa yang mereka kosongkan itu?”

“WC,” jawabnya.

“Bagaimana caranya?”

“Ya, mereka kosongkan dari orang-orang,” jawabnya.

“Tadinya sikapmu mendapatkan tempat yang agung di hatiku hingga sekarang aku dengar hal ini,” kataku.

Dia begitu cemas dan bericap, “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raaji’uan, lalu berkata, “Apa itu wahai paman semoga Allah merahmatimu?”

“Apakah WC itu milikmu?”

“Bukan,” katanya.

“Lantas apa alasanmu mengeluarkan mereka? Sepertinya dengan tindakanmu itu, engkau ingin mengangkat dirimu di atas mereka dan menjadikan kedudukanmu berada di atas kedudukan mereka. Kemudian engkau juga menyakiti si penunggu WC ini dengan mengabaikan upah hariannya dan membuat orang yang datang kemari kembali pulang sia-sia,” kata Maimun lagi.

Dia berkata, “Mengenai penunggu WC itu, aku sudah membuatnya rela dengan memberikan upah harian.”

“Ini namanya pengeluaran foya-foya yang dicampuri oleh kesombongan. Apa yang membuatmu enggan masuk WC bersama orang-orang, padahal engkau sama saja dengan salah seorang dari mereka?” kataku.

“Yang membuatku enggan hanyalah tingkah beberapa orang tidak beres yang masuk WC tanpa penghalang, sehingga aku tidak suka melihat aurat-aurat mereka itu. Demikian juga aku tidak suka memaksa mereka mengenakan penghalang sehingga hal ini bisa mereka anggap sebagai campur tanganku terhadap mereka dengan menggunakan kewenangan  penguasa yang aku bermohon kepada Allah agar kita terhindar darinya. Karena itu, tolong nasehati aku. Sehingga dapat berguna bagi diriku, dan tolong carikan solusi dari permasalahan ini!” jawabnya.

“Tunggulah dulu hingga orang-orang keluar WC pada malam hari dan kembali ke rumah-rumah mereka, lalu masuklah,” saran Maimun.

“Kalau begitu aku berjanji tidak akan masuk selama-lamanya pada siang hari sejak hari ini, dan seandainya tidak karena dinginnya cuaca di negeri ini (sehingga membuat kita selalu ingin buang hajat), tentu aku tidak akan masuk WC itu selama-lamanya,” katanya.

Dia berhenti sejenak seakan memikirkan sesuatu kemudian mengangkat kepala dan menoleh kepada Maimun sambil berkata, “Aku bersumpah di hadapan paman, simpan rahasia ini sehingga tidak didengar oleh ayah. Aku tidak suka dia masih marah, aku khawatir jika datang ajalku sementara aku tidak mendapatkan keridhaan ayah.”

Selanjutnya, “Aku berniat menguji seberapa jauh kedalaman akalnya,” sambil bertanya kepadanya, “Jika Amirul Mukminin bertanya, apakah aku melihat sesuatu darimu, apakah engkau tega jika aku harus berdusta?”

“Tidak, masalah, tapi katakan padanya, aku telah melihat sesuatu darinya lantas aku menasehatinya. Aku jadikan hal itu sebagai perkara besar di hadapan matanya, lalu dia cepat-cepat sadar. Setelah itu, ayah pasti tidak akan menanyakanmu untuk menyingkap hal-hal yang tidak engkau tampakkan padanya. Sebab Allah juga melindunginya dari mencari hal-hal yang masih terselubung,” jawabnya.

“Sungguh, aku belum pernah sama sekali melihat seorang anak dan ayah seperti mereka berdua, semoga Allah merahmati mereka berdua,” pikir Maimun. []

Baca juga: Penyebab Umar bin Abdul Aziz Pingsan

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline