Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Siapakah Dua Wanita dari Istri-istri Rasulullah yang di Nyatakan dalam Firman Allah?

0

Sedikit sekali rumah tangga yang selamat dari lilitan perselisihan di antara anggotanya khususnya di antara suami istri. Karena yang namanya berumah tangga membangun hidup berkeluarga dalam perjalanannya pasti akan menjumpai berbagai permasalahan kecil ataupun besar sedikit ataupun banyak. Permasalahan yg muncul ini dapat memicu perselisihan dalam rumah tangga yang bisa jadi berujung dengan pertengkaran kemarahan dan keributan yang tiada bertepi atau berakhir dengan damai saling mengerti dan saling memaafkan.

Rumah tangga yang mulia lagi penuh barakah yang dibangun oleh seorang hamba termulia kekasih Allah, Muhammad bin Abdillah juga tak lepas dari kerikil-kerikil yang menyandung perjalanannya sampai beliau pernah bersumpah untuk tidak mendatangi istri-istri beliau selama sebulan karena marah kepada mereka.

Berikut ini petikan kisahnya: Abdullah bin ‘Abbas bertutur, “Aku sangat ingin bertanya kepada Umar ibnul Khattab tentang siapa yang dimaksud dua wanita dari kalangan istri Nabi yang Allah nyatakan dalam firman-Nya,

إِنْ تَتُوْباَ إِلَى اللهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوْبُكُماَ وَإِنْ تَظاَهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللهَ هُوَ مَوْلاَهُ وَجِبْرِيْلُ وَصاَلِحُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمَلاَئِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيْرٌ

‘Jika kalian berdua bertaubat kepada Allah maka sungguh hati kalian berdua telah condong untuk menerima kebenaran. Dan jika kalian berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan begitu pula Jibril dan orang-orang mukmin yang baik. Dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.’

”Namun aku tidak sanggup melontarkan pertanyaan karena segan terhadapnya hingga akhirnya ‘Umar berhaji dan aku pun berhaji bersamanya. Dalam perjalanan Umar berbelok menuju suatu tempat untuk buang hajat. Aku pun mengikutinya dengan membawakan bejana kecil dari kulit yang berisi air. Seusai buang hajat aku menuangkan air di atas dua telapak tangannya lalu ia pun berwudhu. Kemudian aku berjalan bersamanya dan kesempatan itu kugunakan untuk bertanya.”

“Wahai Amirul Mukminin siapakah dua wanita dari istri-istri Nabi yang Allah nyatakan dalam firman-Nya:

إِنْ تَتُوْباَ إِلَى اللهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوْبُكُماَ

‘Jika kalian berdua bertaubat kepada Allah maka sungguh hati kalian berdua telah condong untuk menerima kebenaran.‘?”

“Alangkah anehnya engkau ini wahai Ibnu ‘Abbas!  Keduanya adalah ‘Aisyah dan Hafshah,” jawab ‘Umar.

Ibnu ‘Abbas berkata: “Demi Allah sejak setahun lalu aku ingin bertanya kepadamu tentang hal ini namun aku tidak sanggup menanyakannya karena segan terhadapmu.”

“Jangan berbuat demikian. Apa yang engkau yakini aku memiliki ilmu tentangnya maka tanyakanlah. Bila memang aku mengetahuinya aku akan beritakan kepadamu,” kata ‘Umar.

‘Umar pun menceritakan kejadian yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut.

“Aku dan tetanggaku dari kalangan Anshar berada di tempat Bani Umayyah bin Zaid mereka termasuk penduduk daerah yang dekat dengan kota Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Nabi,  sehari giliranku hari berikut gilirannya. Bila tiba giliranku akupun mendatangi tetanggaku tersebut untuk menceritakan berita yang kudapat pada hari itu berupa wahyu atau yg lainnya.

Bila tiba gilirannya ia pun melakukan hal yang sama. Dan kami orang-orang Quraisy menguasai istri-istri kami dan dahulu kami tidak pernah menyertakan mereka dalam urusan kami. Ketika kami datang dan tinggal di kalangan orang-orang Anshar kami dapatkan mereka itu dikalahkan istri-istri mereka. Maka mulailah istri-istri kami mengambil adab wanita-wanita Anshar. Suatu hari aku menghardik istriku dan bersuara keras padanya ia pun menjawab dan mendebatku. Ia juga ikut-ikutan dalam urusanku dengan mengatakan, “Seandainya engkau melakukan ini dan itu.”

Maka aku mengingkari perbuatannya yang demikian.

“Mengapa engkau mengingkari apa yang kulakukan sementara demi Allah istri-istri Nabi sendiri mendebat beliau sampai-sampai salah seorang dari mereka memboikot beliau dari siang sampai malam” kata istriku.

Berita itu mengejutkan aku.

“Sungguh merugi orang yang melakukan hal itu dari kalangan mereka,” kataku kepada istriku.

Lalu kukenakan pakaian lengkapku dan turun menemui Hafshah putriku.

“Wahai Hafshah apakah benar salah seorang kalian ada yang marah kepada Rasulullah dari siang sampai malam?” tanyaku.

“Iya,” jawab Hafshah.

“Sungguh merugi yang melakukan hal itu,” tanggapku.

“Apakah kalian merasa aman dari kemurkaan Allah karena kemarahan Rasulullah dan hingga engkau pun binasa? Jangan engkau banyak menuntut kepada Nabi dan jangan engkau mendebat beliau dalam sesuatu pun dan jangan memboikotnya. Minta saja kepadaku apa yg ingin kamu minta dan jangan menipumu dengan keberadaan madumu yang lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah (yang dimaksud adalah ‘Aisyah).”

‘Umar melanjutkan ceritanya, “Telah menjadi perbincangan di antara kami bahwa Ghassan memakaikan ladam pada kuda-kudanya sebagai persiapan untuk memerangi kami. Suatu ketika turunlah temanku Al-Anshari itu pada hari gilirannya menuju ke majelis Nabi.

Di waktu Isya ia kembali kepada kami lalu mengetuk pintuku dengan keras seraya berkata, “Apakah Umar ada di dalam?”

Aku terhentak dan bergegas keluar menemuinya.

“Hari ini sungguh telah terjadi perkara yang besar,” katanya.

“Apa itu? Apakah Ghassan telah datang?” tanyaku.

“Bukan bahkan lebih besar dan lebih menghebohkan daripada itu. Nabi telah menceraikan istri- istrinya” katanya.

“Betapa meruginya diri Hafshah sungguh sebelumnya aku telah menduga hal ini akan terjadi,” kataku.

Aku pun mengenakan pakaian lengkapku. Pagi harinya aku menunaikan shalat subuh bersama Rasulullah. Setelahnya Rasulullah masuk ke masyrubah-masyrubah beliau dan menyendiri di dalamnya. Aku masuk ke rumah Hafshah ternyata ia sedang menangis.

“Apa yg membuatmu menangis?” tanyaku. “Bukankah aku telah memperingatkanmu akan hal ini apakah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam telah menceraikan kalian?” Lanjut Umar

“Aku tidak tahu di sana di masyrubah beliau memisahkan diri dari kami,” jawab Hafshah.

Aku keluar dari rumah Hafshah dan mendatangi mimbar masjid ternyata di sana ada sekumpulan orang sebagian mereka sedang menangis. Sejenak aku duduk bersama mereka kemudian perasaan hatiku menguasaiku hingga aku bangkit dari tempat tersebut menuju masyrubah yang di dalamnya ada Nabi

Aku berkata kepada Rabah budak hitam milik Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Minta izinkan ‘Umar untuk masuk menemui Nabi.”

Maka masuklah Rabah lalu berbicara kepada Nabi kemudian ia kembali menemuiku seraya berkata, “Aku telah berbicara kepada Nabi dan menyebutkan permintaanmu namun beliau hanya diam.”

”Aku pun berlalu dari tempat tersebut hingga akhirnya aku duduk bersama sekumpulan orang yang ada di sisi mimbar namun kemudian perasaan hatiku menguasaiku hingga aku kembali menuju ke masyrubah tersebut dan kukatakan kepada Rabah, “Mintakan izin bagi Umar untuk masuk.”

Rabah pun masuk lalu kembali menemuiku seraya berkata, “Aku telah menyampaikan permintaanmu namun beliau tetap diam.”

”Aku kembali lagi duduk bersama sekumpulan orang di sisi mimbar namun sekali lagi perasaan hatiku mengalahkanku hingga aku mendatangi Rabah dan berkata, “Mintakan izin bagi Umar untuk masuk.”

Rabah pun masuk ke dalam masyrubah kemudian keluar lagi seraya berkata, “Aku telah sebutkan permintaanmu namun beliau diam saja.”

Maka ketika aku berbalik untuk berlalu dari tempat itu budak tersebut memanggilku “Nabi telah mengizinkanmu,” katanya.

Aku masuk menemui Nabi ternyata aku dapati beliau tengah berbaring di atas tikar tipis tanpa dialasi kasur sehingga tampak bekas-bekas kerikil di rusuk beliau dalam keadaan beliau bertelekan di atas bantal dari kulit yang telah disamak yang diisi dengan sabut. Aku ucapkan salam kepada beliau kemudian aku berkata dalam keadaan tetap berdiri, “Wahai Rasulullah apakah engkau telah menceraikan istri-istrimu?”

Beliau mengangkat pandangannya ke arahku, “Tidak.”

“Allahu Akbar,” seruku.

Kemudian aku berkata utk menyenangkan hati beliau dalam keadaan aku tetap berdiri.

“Wahai Rasulullah kita dulunya orang-orang Quraisy mengalahkan dan menguasai istri-istri kita. Ketika kita datang ke Madinah ternyata orang-orangnya dikalahkan oleh istri-istri mereka.”

Nabi tersenyum mendengar penuturanku.

“Wahai Rasulullah seandainya engkau melihatku masuk menemui Hafshah kukatakan kepadanya, ‘Jangan menipumu dengan keberadaan madumu yang lebih cantik darimu dan lebih dicintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam–yakni ‘Aisyah,'” lanjutku.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam tersenyum lagi. Maka, ketika melihat beliau telah tersenyum aku pun duduk. Aku memandang isi masyrubah beliau maka demi Allah tidak ada sesuatu pun di tempat itu kecuali tiga kulit yang belum disamak.

“Wahai Rasulullah mohon berdoalah engkau kepada Allah agar memberikan keluasan dan kelapangan bagi umatmu karena Persia dan Romawi telah dilapangkan dunia mereka dan mereka diberi keni’matan dunia padahal mereka tidak beribadah kepada Allah,” kataku.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam duduk setelah sebelumnya beliau bertelekan di atas bantal seraya berkata, “Apakah engkau ragu wahai Ibnul Khaththab bahwa kelapangan di akhirat lebih baik daripada kelapangan di dunia? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kebaikan atau kesenangan mereka dalam kehidupan dunia ini.”

“Wahai Rasulullah mintakanlah ampun untukku,” kataku.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam memisahkan diri dari istri-istri beliau selama 29 malam dikarenakan rahasia beliau yang disebarkan oleh Hafshah kepada ‘Aisyah.

Beliau menyatakan, “Aku tidak akan masuk menemui mereka selama sebulan.”

Beliau sangat marah terhadap mereka karena merekalah yang menyebabkan Allah SWT mencela beliau.

‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah apa yang menyusahkanmu dari perkara wanita? Bila engkau menceraikan mereka maka sungguh Allah bersamamu para malaikatnya Jibril dan Mikail. Aku (Umar), Abu Bakar dan kaum mukminin pun bersamamu.”

”Ketika telah lewat waktu 29 malam beliau pertama kali masuk menemui ‘Aisyah. “Wahai Rasulullah bukankah engkau telah bersumpah untuk tidak masuk menemui kami selama sebulan sementara waktu yang kuhitung baru berjalan 29 malam,” tanya ‘Aisyah mengingatkan beliau.

“Bulan ini lamanya 29 malam” jawab beliau.

Kemudian Allah menurunkan ayat takhyir ‘Aisyah-lah yang paling pertama dari istri beliau yang beliau tawarkan pilihan, maka ‘Aisyah memilih tetap bersama beliau. Setelahnya beliau pun memberikan pilihan kepada istri-istri beliau yang lain maka mereka semuanya mengucapkan seperti yg diucapkan ‘Aisyah.” {HR. Al-Bukhari no. 4913 5191 dan Muslim no. 1479} []

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline