Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Saat Umar Ditikam Abu Lu’luah

0

Pada 4 Dzulhijjah 23 Hijriah, Umar mengimami shalat subuh. Ia mengatur para jemaah agar mengatur dan meluruskan shaf. Baru saja ia hendak bertakbir, Abu Lu’luah tiba-tiba maju ke depan dan menikamkan Umar hingga kira-kira enam kali. Satu tikaman di bawah pusar.

Setelah itu, Abu Lu’luah kabur. Umar merasakan panas di luka tikaman. Ia menoleh kepada jemaah seraya berkata, “Kejar orang itu!”

Suasana kacau. Orang-orang mengejar Abu Lu’luah. Abu Lu’luah melawan. Ia menikam secara membabi buta. Dua belas orang menjadi korban. Enam di antaranya tewas. Sampai kemudian Abu Lu’luah berhasil diringkus dan diempaskan ke tanah. Yakin dirinya pasti akan dibunuh, Abu Lu’luah bunuh diri dengan belatinya itu. Umar bertahan hidup beberapa hari usai peristiwa itu.

Umar memegang tangan Abdurrahman bin Auf dan memintanya mengimami shalat. Abdurrahman memimpin shalat dengan membaca dua surat paling pendek, al-Ashr dan al-Kautsar. Umar kemudian jatuh pingsan. Cukup lama. Ia siuman setelah seseorang mengatakan kepadanya bahwa waktu shalat telah tiba. “Shalat?” kata Umar. “Ya Allah, tak ada guna jika tak mengerjakan shalat.” Ia kemudian berwudhu dan melaksanakan shalat kendati darah terus mengalir dari luka-luka tikaman.

“Alhamdulillah, aku tidak dibunuh oleh seorang muslim,” kata Umar seusai menjalankan shalat saat tahu yang menikamnya adalah Abu Lu’luah. Umar dipindahkan ke rumah putrinya, Hafshah. Hafshah tak henti-hentinya meratap, “Wahai sahabat Rasulullah wahai mertua Rasulullah wahai Amirul Mukminin.”

Umar memegang tangan putrinya seraya berkata dengan lirih, “Duduklah. Aku tak tahan mendengar ratapanmu!” Hafshah duduk dan Umar duduk dengan bersandar pada putrinya itu sambil melanjutkan kata-katanya, “Sebagai ayah, aku berhak memperingatkan engkau agar jangan menangisiku. Tetapi aku tak dapat menahan air matamu. Hanya perlu engkau ketahui bahwa orang yang meratap dan menangisi mayat sangat tidak disukai para malaikat.”

BACA JUGA: Doa Umar Bin Khattab, Saat Lelah Mengurus Rakyat

Umar merasa ajalnya kian dekat. Ia berkata kepada anaknya, Abdullah, “Temui Aisyah, Ummul Mukminin, dan katakan bahwa Umar meminta izin agar dimakamkan di sisi kedua sahabatnya (Rasulullah dan Abu Bakar).”

Related Posts

Umar bin Khattab: Pejabat yang Jujur dan Amanah

Abdullah pun menemui Aisyah yang sedang menangis. Dia menyampaikan salam dan pesan ayahnya. Aisyah menanggapi, “Tadinya tempat itu kusediakan untukku sendiri, tetapi hari ini aku mengutamakan Umar ketimbang diriku.”

Abdullah buru-buru kembali kepada ayahnya. Umar bertanya, “Bagaimana tanggapan Aisyah, wahai Anakku?”

Abdullah menjawab, “Dia menerima.”

Umar bersyukur kepada Allah seraya berkata, “Itu keinginanku yang paling penting.”

Umar meminta Abdullah meletakkan kepalanya di lantai (waktu itu kepala Umar di pangkuan Abdullah). Abdullah berkata, “Pahaku dan tanah sama.”

Umar mengulangi perintahnya agar dirinya dibaringkan di lantai. Abdullah pun mengulangi jawabannya. Lalu, untuk kali ketiga, Umar berkata, “Baringkan aku di tanah!”

Abdullah kemudian membaringkan tubuh Umar di tanah. “Celaka aku jika Allah tidak mengampuniku.” Umar mengulang kata-kata itu sampai ia mengembuskan napas terakhir. Umar bin Khattab wafat pada 26 Dzulhijjah 23 Hijriah, bertepatan dengan 3 November 644 Masehi. []

Wallahu’alam Bisshawab. []

Sumber: The Great of Two Umars/ Penulis: Fuad Abdurrahman/ Penerbit: Zaman, 2016

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline