Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Rasulullah: Wahai Jibril, Apa yang Engkau Cintai jika Engkau Menjadi Penghuni Dunia?

0

Rasulullah Shalallahu ‘alaihim wasallam pernah bersabda, “Ada tiga hal yang sangat aku senangi di dunia ini, yaitu: Pertama, wangi-wangian. Kedua, istri shalihah. Ketiga, ketenangan saat shalat.”

Ketika itu beliau sedang duduk dengan para sahabatnya. Tiba-tiba Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, ‘Engkau benar, wahai Rasulullah, aku pun menyukai tiga hal lainnya, yaitu; senang melihat wajah Rasulullah, menafkahkan hartaku menurut kemauan Rasulullah dan aku senang putriku berada di bawah pemeliharaan Rasulullah’.

Sayyidina Umar bin Khattab lantas menimpali, ‘Engkau benar, wahai Abu Bakar, aku pun senang akan tiga hal lainnya, yaitu; mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan berpakaian (berpenampilan) sederhana’.

Sayyidina Utsman bin Affan pun menyahut, ‘Engkau benar, wahai Umar, aku pun menyukai tiga hal lainnya, yaitu; mengenyangkan orang yang sedang lapar, memberi pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian, dan membaca Al-Qur’an’.

Selanjutnya, Sayyidina Ali bin Abu Thalib juga berkata, ‘Engkau benar, wahai Utsman, aku pun menyukai tiga hal lainnya, yaitu; melayani tamu, puasa pada musim panas, dan memukul musuh dengan pedang’.

Ketika mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Malaikat Jibril datang dan berkata (kepada Rasulullah) : “Allah telah mengutus aku ketika mendengar pembicaraan kalian. Allah memerintahkan kepadamu, wahai Rasulullah, supaya engkau bertanya kepadaku tentang sesuatu yang aku cintai apabila aku menjadi penghuni dunia”.

Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihim wasallam pun bertanya, “Wahai Jibril, apa yang engkau cintai jika engkau menjadi penghuni dunia?”

Malaikat Jibril menjawab, “Memberikan petunjuk kepada orang yang sesat, menemani orang yang taat kepada Allah, dan menolong keluarga yang fakir.”

Selanjutnya, Malaikat Jibril berkata, “Allah, Tuhan Yang Mahamulia dan Mahaagung mencintai tiga hal yang ada pada diri hamba-Nya, yaitu; mencurahkan segala kemampuan dalam berbakti kepada Allah, menangis karena menyesal telah berbuat maksiat, dan sabar ketika mengalami kefakiran.” []

Sumber: Kitab Nashaihul Ibad

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline