Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Pria Penyembah Berhala Mendapatkan Bidadari Surga

0

Syaikh Abdul Wahid berkata, “Ketika naik sebuah perahu, tiba-tiba aku terdampar di sebuah pulau.

Ternyata disana ada seorang laki-laki penyembah berhala. Aku bertanya kepadanya, “Wahai laki-laki, siapakah yang engkau sembah itu?”

Ia menunjuk sebuah berhala. Aku berkata, “Sesungguhnya Tuhanmu itu dibuat di tempat kami, ada orang yang membuat patung seperti itu. mengapa barang seperti itu disembah?”

la berbalik bertanya, “Sedangkan kamu, apakah yang kamu sembah?”

Kami berkata, “Kami menyembah Raja yang Arsy-Nya ada di langit dan tindakan-Nya ada di bumi, serta ketentuan-Nya meliputi orang-orang yang masih hidup maupun orang-orang yang sudah mati, nama-nama-Nya sangat Suci, Mahaagung, dan Mahatinggi.”

Ia berkata, “Siapakah yang mengajarimu seperti ini?”

Raja itu telah mengutus kepada kami seorang rasul yang mulia, kemudian ia memberitahukan hal itu kepada kami.”

Ia berkata, “Apa yang telah dilakukan rasul itu?”

Kami berkata, “Manakala beliau telah menyampaikan risalah itu kepada kami, maka Sang Raja itu telal memanggilnya kepada-Nya dan memberikan nikma kepadanya di sisi-Nya.”

“Apakah rasul itu meninggalkan tanda-tanda kepadamu?” Ia bertanya lagi.

Kami menjawab, “Beliau meninggalkan kitab Raja itu kepada kami.”

Ia berkata, “Perlihatkanlah kepadaku kitab Raja itu pasti kitab Raja itu bagus.”

Kemudian kami mentuijukkan mushaf kepadanya. la berkata, “Aku tidak mengerti isi kitab ini.”

Kami membacakan satu surat kepadanya, maka ia terus menangis sampai kami dapat mengkhatamkan satu surat. Kemudian ia berkata, “Seharusnya pemilik kitab ini tidak didurhakai.”

Lalu ia pun memeluk Islam dan setia kepada agamanva. Kami mengajarkan kepadanya syariat Islam dan beberapa surat Al-Qur’an.

Pada suatu malam, ketika kami telah menjalankan shalat Isya’ dan hendak tidur, ia berkata, “Wahai kaum, Tuhan yang kamu tunjukkan kepadaku ini jika malam datang apakah Dia tidur?”

Kami menjawab, “Dia tidak tidur wahai hamba, Dia Mahaagung, hidup, berdiri sendiri, tidak mengantuk. dan tidak tidur.”

Dia berkata, “Sungguh, kamu adalah seburuk-buruk hamba. Kamu tidur sedang Tuhan kamu tidak tidur.”

Tentu saja kata-katanya itu membuat kami terkejut. Dan ketika kami hendak pergi meninggalkan tempat itu, ia berkata, “Ajaklah aku bersamamu!”

Kami pun mengajaknya. Ketika kami tiba di Ubadan, saya berkata kepada sahabat-sahabat saya, “Orang ini baru memeluk Islam, alangkah baiknya seandainya kita mengumpulkau uang dan kita berikan kepadatwa.”

Maka ia terkaget, “Apa ini?”

Kami berkata, “Beberapa dirham yang bisa engkau gunakan.”

Dia berkata, “Tidak ada Tuhan selain Allah, kamu telah menunjukkan kepadaku jalan yang kamu tidak menitinya. Aku berada di sebuah pulau menyembah berhala, namun Dia tidak menyia-nyiakan aku, padahal aku belum mengenal-Nya. Lantas, bagaimana Dia akan menyia-nyiakan aku, sedangkan sekarang aku telah mengenal-Nya?”

Tiga hari kemudian, aku mendengar berita bahwa ia telah sakit dan telah mendekati ajalnya. Aku pun datang kepadanya dan mengatakan, “Apakah engkau mempunyai suatu keperluan?”

Ia menjawab, “Dia yang membawamu ke pulau itu telah memenuhi keperluanku.”

Syaikh Abdul-Wahid berkata, “Kemudian kedua mataku mengantuk hingga aku tertidur di sebelahnya. Maka aku melihat sebuah taman hijau, di dalamnya terdapat kubah, dan di dalam kubah itu terdapat ranjang, di atas ranjang itu ada wanita yang amat cantik, kecantikan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.”

Wanita itu berkata, “Demi Allah swt, kenapa engkau tidak segera mengantarkan dia kepadaku, sungguh aku amat merindukannya.”

Kemudian aku terbangun, ternyata ia telah meninggal dunia. Lalu aku memandikannya, mengkafaninya, menshalatkannya dan memakamkannva.

Ketika malam tiba, aku bermimpi. Dalam mimpi itu aku melihat taman hijau tersebut, di dalamnya terdapat kubah. Di dalam kubah tersebut terdapat ranjang, dan di atas ranjang terdapat wanita cantik yang telah aku lihat dalam mimpiku sebelumnya. Sedangkan laki-laki itu telah berada di sampingnya, dan membacakan ayat. “Dan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu sambil mengucapkan, ‘Salamun ‘Alaikum bima shabartum.’ Maka, alangkah baiknya temapt kesudahan itu.” Ar-Ra’d [13]: 23-24)

Sungguh luar biasa kekuasaan Allah Subhanallah Wa Ta’ala. Dengan kasih sayang-Nya ia merubah kehidupan seseorang yang sepanjang hidupnya menjadi penyembah berhala melalui seorang pelayar yang terdampar. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada pula yang dapat memberikan apa engkau haramkan.” Raudhur- Riyahin []

Sumber: 40 Hari Menuju Kematian/ Penulis: Syaikh Muhammad Maulana Islam/ Penerbit:Nabawi,2006

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline