Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Pesan Pernikahan dari Rasulullah SAW

0

Suatu hari Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, bertemu dengan sejumlah sahabat beliau di Masjid Nabawi, Madinah, untuk membahas berbagai hal dan memberi pengarahan kepada mereka. Di antara yang hadir adalah Anas bin Malik, seorang sahabat beliau dengan nama lengkap Abu Hamzah Anas bin Malik bin An-Nadhar bin Damdan bin Zaid bin Haram bin Jundub bin ‘Amir bin Khanam bin ‘Adiy bin Al-Najjar Al-Khazraji Al-Madani.

Anas lahir di Madinah sepuluh tahun sebelum Hijrah atau sekitar 612 M. Selepas RasuluIllah Shalallahu alaihi wasallam berhijrah ke Kota Suci itu, Anas diserahkan ibundanya kepada beliau untuk menjadi pembantu. Selain ikut serta dalam Perang Badar dan beberapa peperangan lainnya, Anas tetap melayani Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sampai beliau wafat.

Ketika ‘Ali bin Abu Thalib naik ke pentas kekuasaan sebagai khalifah pada Jumat, 25 Dzulhijjah 35 H/24 Juni 656 M, Anas termasuk pendukung menantu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam ini, dalam menghadapi Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Selanjutnya pada 65 H/684 M, Anas bin Malik diangkat menjadi imam shalat di Bashrah, bertindak atas nama ‘Abdul-lah bin Al-Zubair yang kala itu juga menjadi rival penguasa dari Dinasti Umawiyyah. Tak aneh bila Anas kemudian, karena sikapnya yang antidinasti itu, ditahan Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi, Gubernur Irak kala itu.

Tetapi, khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan kemudian membebaskannya dengan penuh penghormatan. Kesempatan itu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam manfaatkan untuk menekankan bahwa pernikahan yang didasarkan semata karena cinta hanya akan menyenangkan beberapa waktu, karena acap kali apa yang dinamakan cinta bukan cinta sejati, melainkan nafsu terselubung yang segera memudar.

Sedangkan pernikahan yang didasarkan harta akan dapat menyengsarakan pada sebagian besar masa, karena tiada yang dapat menjamin kesinambungan harta. Dan, hanya pernikahan yang berdasarkan kesamaan agama dan pandangan hidup yang akan membahagiakan sepanjang masa. Ini karena tuntunan agama langgeng melintasi batas usia manusia, dan pandangan hidup akan menyertai manusia sepanjang hidupnya.

Pesan beliau, “Siapa yang mengawini seorang perempuan karena kemuliaannya, Allah tidak menambah baginya kecuali kehinaan. Siapa yang mengawininya karena hartanya, Allah tidak menambah untuknya kecuali kemiskinan. Siapa yang mengawininya karena kebangsawanannya, Allah tidak menambah untuknya kecuali kerendahan. Dan, siapa yang mengawini seorang perempuan dan dia tidak menghendaki perkawinan itu kecuali agar terpelihara pandangannya dan terbentengi kemaluannya, serta menghubungkan silaturahminya, Allah akan memberkatinya melalui perempuan itu dan memberkati perempuan itu melalui dia.” []

Sumber: Rumah Cinta Rasulullah, Kisah-Kisah Indah Seputar Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah /Penulis: Ahmad Rofi’ Usmani/Penerbit: Mizania,2007

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline