Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Perkembangan Al-Qur’an dari Arab Gundul sampai Digunakannya Harakat (Bagian 3 Habis)

0

E. Rasm al-Qur’ān

1. Pengertian Rasm Al-Qur’an

Rasm berasal dari kata rasama-yarsamu yang artinya menggambar atau melukis. Istilah rasm dalam Ulumul Quran diartikan sebagai pola penulisan Al-Qur’an yang digunakan oleh Utsman bin ‘Affan dan sahabat-sahabatnya ketika menulis dan membukukan Al-Qur’an. Lalu, pola penulisan itu menjadi gaya penulisan standar dalam penulisan kembali atau penggandaan mushaf Alquran. Pola penulisan ini kemudian lebih populer dengan nama Rasm Utsmani.

Yang dimaksud dengan Rasm Al-Qur’an atau Rasm ‘Utsmani atau rasm ‘Utsman adalah tata cara menuliskan Al-Qur’an yang ditetapkan pada masa Khalifah ‘Utsman bin Affan. Istilah rasm ‘Utsman lahir bersamaan dengan lahirnya Mushaf ‘Utsman, yaitu mushaf yang ditulis oleh panitia empat yang terdiri dari atas Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al’Ash, dan ‘Abdurrahman bin Al-Harits. Mushaf ‘Utsman ditulis dengan kaidah-kaidah tertentu.

Para ulama meringkas kaidah itu menjadi enam istilah, yaitu:

1. Al-Hadz (membuang, menghilangkan, atau meniadakan huruf). Contohnya, menghilangkan huruf alif pada ya’ nida’ ياايهاالناس , dari ha tanbih هاانتم , pada lafazh jalalah الله , dan dari kata na انجينكم.
2. Al-Jiyadah (penambahan), seperti menambahkan huruf alif setelah wawu atau yang mempunyai hukum jama’ (بنوااسراءيل) dan menambah alif setelah hamzah marsumah (hamzah yang terletak di atas tulisan wawu) (تفتوا تالله).
3. Al-Hamzah, salah satu kaidahnya berbunyi bahwa apabila hamzah berharakat sukun, ditulis dengan huruf berharakat yang sebelumnya, contoh “ i’dzan” (ئذن ا ) dan “u’tumin” (اؤتمن ).
4. Badal (penggantian), seperti alif ditulis dengan wawu sebagai penghormatan pada kata الحيوة, الزكوة, الصلوة.
5. Washal dan Fashl (penyambungan dan pemisahan), seperti kata kul yang diiringi kata ma ditulis dengan disambung (كلما).

Kata yang dapat dibaca dua bunyi. Penulisan kata yang dapat dibaca dua bunyi disesuaikan dengan salah satu bunyinya. Di dalam mushaf ‘Utsmani, penulisan kata semacam ini ditulis dengan menghilangkan alif, misalnya “ملك يوم الدين “. Ayat ini boleh dibaca dengan menetapkan alif (yakni dibaca dua alif), boleh juga dengan hanya menurut bunyi harakat (yakni baca satu alif).

2. Pendapat Para Ulama sekitar Rasm Al-Qur’an

a. Mengenai status atau kedudukan Rasm Al-Qur’an (tata cara penulisan Alquran), para ulama berbeda pendapat. Mereka mempertanyakan benarkah pola penulisan tersebut merupakan petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam (tawqifi) ataukah hanya ijtihad sahabat?

Dalam hal ini, terdapat beberapa pendapat, di antaranya sebagai berikut:

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa rasm ‘Utsmani bersifat tauqifi, yakni bukan merupakan produk budaya manusia yang wajib diikuti oleh siapa saja ketika menulis al-Qur’ān . Mereka bahkan sampai pada tingkat menyakralkannya. Untuk menegaskan pendapatnya, mereka merujuk pada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi pernah berpesan kepada Mu’awiyah, salah seorang seretarisnya

“Letakkanlah tinta. Pegang pena baik-baik. Luruskan huruf ba’. Bedakan huruf sin. Jangan butakan huruf min. perbaguslah (tulisan) Allah. Panjangkan (tulisan) ar-rahman dan perbaguslah (tulisan) ar-rahim. Lalu letakkan penamu di atas telinga kirimu, karena itu akan membuatmu lebih ingat.”

Mengomentari pendapat di atas, Al-Qaththan berpendapat bahwa tidak ada satu riwayat pun dari Nabi yang dapat dijadikan alasan untuk menjadikan Rasm ‘Utsmani sebagai tauqifi. Rasm Utsmani murni merupakan kreatif panitia empat atas persetujuan ‘Ustman sendiri.

Yang dijadikan pedoman cara penulisan yang digunakan panitia itu adalah pesan ‘Utsman kepada tiga orang di antara panitia yang berasal dari suku Quraisy, yaitu, “Jika kalian berbeda pendapat (ketika menulis Mushaf) dengan Zaid bin Tsabit, maka tulislah dengan lisan Quraisy karena dengan lisan itulah al-Qur’ān turun.”

b. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa Rasm ‘Utsmani bukan tauqifi, tetapi merupakan kesepakatan cara penulisan (ishtilahi) yang disetujui ‘Utsman dan diterima umat, sehingga wajib diikuti dan ditaati siapapun ketika menulis Alquran. Banyak ulama terkemuka yang menyatakan perlunya konsistensi menggunakan Rasm ‘Utsmani.

Asyhab berkata bahwa ketika ditanya tentang penulisan al-Qur’ān , apakah perlu menulisnya seperti yang dipakai banyak orang sekarang, Malik menjawab, “Aku tidak berpendapat demikian. Seseorang hendaklah menulisnya sesuai dengan tulisan pertama.”

Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata, “Haram hukumnya menyalahi khath Mushaf ‘Utsmani dalam soal wawu, alif, ya’, atau huruf lainnya.”

c. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Rasm ‘Utsmani bukanlah tauqifi. Tidak ada halangan untuk menyalahinya tatkala suatu generasi sepakat menggunakan cara tertentu untuk menulis al-Qur’ān yang berlainan dengan Rasm Utsmani.

Dalam hal ini, Al-Qādhi Abu Bakar Al-Baqillāni berkata, “Adapun mengenai tulisan, sedikitpun Allah tidak mewajibkan kepada umat. Alllah tidak mewajibkan juru tulis-juru tulis al-Qur’ān dan kaligrafer mushaf-mushaf untuk menggunakan suatu bentuk tertentu dan mewajibkan mereka meninggalkan jenis tulisan lainnya. Sebab, keharusan untuk menerapkan bentuk tertentu harus ditetapkan berdasarkan al-Qur’ān atau hadis.

Padahal, tidak ada di dalam nash-nash al-Qur’ān, tidak juga tersirat dari suatu (mafhum)-nya yang mengatakan bahwa rasm dan dhabith al-Qur’ān hanya dibenarkan dengan cara tertentu dan keterangan tertentu. Tidak juga disebutkan dalam sunnah yang mewajibkan dan menunjukkan hal itu, dan tidak pula ditunjukkan qiyas syar’i. bahkan, sunnah menunjukkan bolehnya menuliskan (mushaf) dengan cara yang termudah sebab Rasulullah dahulu menyuruh menuliskannya tanpa menjelaskan kepada mereka bentuk (tulisan) tertentu. Oleh karena itu, telah terjadi perbedaan khath mushaf-mushaf (yang ada). Ada di antara mereka yang menulis kalimat berdasarkan makhraj lafazh dan ada pula yang menambah dan menguranginya berdasarkan pengetahuannya bahwa Rasm ‘Utsmani hanyalah merupakan istilah semata. Jelasnya, siapa saja mengatakan wajib mengikuti cara penulisan tertentu ketika menulis al-Qur’ān, hendaklah ia mendukungnya dengan berbagai argumentasi. Dan kami siap membantahnya.”

Untuk memperkuat pendapatnya, Al-Qaththan mengutip ucapan Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’b Al-Iman, “Siapa saja yang hendak menulis Mushaf, hendaknya memperhatikan cara mereka yang pertama kali menulisnya. Janganlah berbeda dengannya. Tidak boleh mengubah sedikitpun apa-apa yang btelah mereka tulis karena mereka lebih banyak pengetahuannya, ucapan dan kebenarannya lebih dipercaya, serta lebih dapat memegang amanat daripada kita. Jangan ada di antara kita yang merasa dapat menyamai mereka”. []

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline