Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Penyebab Turunnya Surah Al-Munafikun Ayat 1-8

0

Al-Muraisi adalah nama sungai yang terdapat di daerah Qudaid sampai as-Sahil. Sungai itu berada di kawasan Madinah. Jarak al-Muraisi dengan garis pantai sejauh 80 kilometer. Di daerah inilah tempat terjadinya perang antara kaum Muslim dan Bani Mushtaliq dari Khuzaah sekitar 6 Hijriah.

Sekalipun peperangan ini tidak berjalan lama dan berlarut-larut, tapi buntut dari peperangan ini sempat mengguncang dan meresahkan kaum Muslim. Akar persoalannya berasal dari ulah kelompok kaum munafik.

Peperangan al-Muraisi dimulai saat Rasulullah mendapat informasi bahwa pemimpin Bani al-Mushthaliq, al-Harits bin Abu Dhirar, sedang menghimpun kaumnya untuk memerangi kaum Muslim. Mendapat informasi ini Rasulullah mengutus Buraidah bin al-Hushaib al-Aslamy untuk mengecek kebenaran informasi tersebut.

Baca juga: Sebab Turunnya Surat Yasiin Ayat 77-83

Setelah Buraidah melakukan pengecekan dan memang al-Harits bin Abu Dhirar sedang berupaya memerangi kaum Muslim, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bertindak cepat dengan menghimpun para sahabat dan berangkat menuju al-Muraisi. Dalam pasukan kaum Muslim tersebut, terdapat segolongan orang-orang munafik yang ikut bergabung. Mereka tergiur oleh harta rampasan perang karena dalam perang-perang sebelumnya kaum Muslim selalu memperoleh kemenangan.

Setelah pasukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sampai di Qudaid, Muraisi, mereka bertemu dengan pasukan al-Harits bin Abu Dhirar. Kedua pasukan itu pun saling melepaskan anak panah. Namun, beberapa lama kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk melancarkan serangan serentak, yang kemudian berhasil menundukkan pasukan al-Harits.

Pasukan musuh cukup banyak yang terbunuh, sementara korban dari kaum Muslim hanya satu orang saja. Di antara tawanan perang tersebut ada seorang wanita bernama Juwairiyah binti al-Harits, anak pemimpin mereka.

Dalam pembagian harta rampasan dan tawanan, Juwairiyah menjadi bagian Tsabit bin Qais. Namun, Tsabit ingin melepaskan dengan uang tebusan sehingga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menebusnya lalu dinikahi. Dikarenakan perkawinan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan Juwairiyah ini, orang-orang Muslim membebaskan 100 dari keluarga Bani Mushthaliq yang telah masuk Islam.

Yang luar biasa dari peperangan ini adalah banyaknya fitnah yang dihembuskan kaum musyrikin. Antara lain, mengenai kabar bohong kaum Muhajirin akan menguasai kaum Anshar di tanah Madinah. Isu tersebut sempat menimbulkan ketegangan antara kedua penopang utama pasukan Muslimin.

Peristiwa ini berawal dari peristiwa senggolan antara kaum Anshar, Jahjah Al-Ghifary, orang upahan Umar bin Khatab dan Sinan bin Wabar Al-Juhanny, yang masuk kaum Muhajirin. Peristiwa senggolan di dekat mata air al-Muraisi setelah perang selesai itu berkembang menjadi adu mulut.

Sinan berteriak, “Hai orang-orang Anshar…” Jahjah juga berteriak, “Hai orang Muhajirin…”

Kejadian ini didengar seorang dari golongan kaum munafik, Abdullah bin Ubay. Dia kemudian menggunakan kesempatan itu untuk mengadu domba kaum Anshar dan Muhajirin dengan memunculkan kebencian kaum Anshar terhadap Muhajirin.

Hasutan Abdullah bin Ubay ini membuat Umar bin Khattab marah dan mengusulkan pada Rasullullah untuk membunuhnya. Mendapat usul tersebut Rasulullah menjawab, “Bagaimana wahai Umar jika manusia membicarakan bahwa Muhammad telah membunuh rekan-rekannya? Tidak. Tapi, suruhlah pasukan untuk berangkat.”

Rasululullah sengaja mengajak pasukannya berjalan agar pasukannya bisa melupakan kejadian itu. Beliau mengajak pasukannya berjalan kaki selama dua hari dua malam hingga pasukannya kelelahan dan mengantuk.

Abdullah bin Ubay sendiri setelah tahu bahwa perbuatannya diketahui Rasulullah buru-buru menemui Rasulullah dan bersumpah tidak lagi berbuat seperti itu. Berkenaan dengan peristiwa ini, Allah berfirman:

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah’. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.

Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri.

Baca juga: Kecemburuan Hafshah, Menjadi Sebab Turunnya Ayat Ini

Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): ‘Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)’. Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.” (QS Al-Munafikun : 1-8) []

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline