Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Penaklukkan Baitul Maqdis, Satu di Antara Tanda Kiamat

0

“Ingatlah enam tanda-tanda kiamat: ( I ) kematianku, (2) penaklukan Baitul Maqdis, (3) kematian secara serentak seperti wabah (yang menyerang) domba, (4) harta melimpah sehingga seseorang merasa tidak puas jika hanya diberi 100 dinar, (5) muncul malapetaka yang menimpa seluruh manusia, dan (6) perjanjian damai antara kalian dengan Bani Ashfar, lalu mereka mengkhianati perjanjian ini sehingga mereka menyerang kalian dengan membawa 80 bendera, setiap bendera berjumlah 12.000 pasukan.” (HR Bukhari, Ahmad dalam Musnad, Baghawi dalam Syarh As-Sunah, dan Thabrani).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira berupa penaklukan Baitul Maqdis yang dijadikan sebagai salah satu tanda kiamat, seperti yang tertuang dalam hadits di atas. Prediksi hadits tersebut terealisasikan—pertama kali—pada tahun 16 H/636 M di masa Khalifah Umar bin Khattab r.a. Setelah kaum muslimin mengepung kota Baitul Maqdis, akhirnya penduduk setempat meminta berdamai dan mereka mengajukan persyaratan agar Umar bin Khattab datang seorang diri untuk menandatangani kesepatakan.

Umar pun mengabulkan permintaan mereka, lalu ia mendatangi mereka untuk membuat perjanjian damai yang dipimpin oleh Kepala Uskup Shafar Nius. Umar berjanji akan menjamin keamanan gereja-gereja, salib-salib, dan harta mereka. Lalu mereka mengajukan persyaratan agar tidak seorang Yahudi pun yang masuk ke kawasan mereka. Umar menyetujuinya dan menuliskan perjanjian tersebut dengan disaksikan oleh para pemimpin pasukannya.

Setelah itu, kaum Nasrani sering membuang sampah di dekat sebuah gurun untuk mengelabui kaum Yahudi yang terus-menerus menekan mereka. Ketika Umar memasuki kota tersebut dan pergi ke gurun, ia membersikan sampah-sampah dan kotoran Iainnya untuk membangun sebuah masjid di sebelah selatan Baitul Maqdis atau yang dikenal dengan Al-Umri, dan pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan dibangunlah Masjidil Aqsa dan Masjid Shakhrah.

Thariq bin Syihab mengatakan bahwa ketika Umar r.a. datang ke negeri Syam, ia di hampiri sekelompok pasukan, sedangkan ia mengenakan serban dan telah melepaskan kedua sepatunya, lalu menceburkan diri ke dalam air untuk mengambil tali kendali dan menaruhnya di bawah ketiak.

Mereka berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sekarang ini para pemimpin dan seluruh masyarakat Syam ingin menemuimu, sedangkan engkau dalam keadaan seperti ini.”

Lalu Umar menjawab, “Sesungguhnya kami adalah kaum yang telah dimuliakan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala dengan Islam. Jika kita meminta kemuliaan kepada selain-Nya, Dia akan merendahkan kita.”
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada para sahabatnya tentang kematian kaum muslimin sebagai permulaan musibah yang menimpa mereka setelah kematian Rasulullah.

Penjelasan tersebut sesuai dengan hadits Auf bin Malik yang menerangkan tanda-tanda kiamat. Dalam hadits tersebut terdapat kata al-mutan yang berarti kematian yang menimpa binatang ternak. Sedangkan, al-qu’ash (jenis penyakit yang menyerang dada, seolah-olah mematahkan leher) adalah sejenis wabah penyakit ganas yang menyerang domba dan mematikan secara tiba-tiba.

Setelah penaklukan Baitul Maqdis, kota Syam terserang wabah (tahun 18 Hijriah) pada zaman Khalifah Umar r.a. yang dikenal dengan wabah ‘amawas, yaitu nama sebuah kampung antara Ramalah dan Baitul Maqdis. Lebih dari 25.000 sahabat wafat akibat terserang wabah tersebut. Wabah tersebut adalah wabah pertama pada masa Islam yang menewaskan manusia seperti wabah ternak. Di antara sahabat yang wafat akibat wabah tersebut adalah Mu’adz bin Jabal dan Abu Ubaidah bin Jarah r.a. []

Sumber: Mengungkap berita besar dalam kitab suci/ Penulis: ‘Abd al-Wahhāb ‘Abd al-Salām Ṭawīlah/ Penerbit: Tiga Serangkai/ 2006

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline