Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Nadhr bin Harits, Penyair yang Melecehkan Al-Quran

0

Untuk mencegah meluasnya dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, kaum kafir Quraisy melakukan berbagai macam cara. Salah satunya adalah dengan mengerahkan para penyair hebat pada masa itu. Dan itu bukanlah hal sulit, mengingat Mekah adalah pusat ziarah yang dikunjungi pelbagai kabilah di jazirah Arab.

Sehingga sebagai pusat kota, selalu ada orang orang hebat disitu. Terutama para penyair. Dijaman Rasulullah waktu itu, penyair memiliki peran penting dalam mensukseskan sebuah kebijakan ‘Petinggi’ Quraisy.  Para penyair punya peran yang besar untuk menentukan arah sebuah kepentingan.

Penyair itu mampu mengarahkan orang-orang untuk menyukai sesuatu, menolak atau bahkan membenci sesuatu atau seseorang. Pendek kata, para penyair bagaikan sebuah ‘media yang berjalan’ yang kebanyakan disetir oleh orang orang kaya untuk kepentingan mereka.

Orang orang kafir Quraisy yang merasa marah dan geram karena selama ini tidak berhasil meredam dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Meskipun berbagai kekejaman sudah mereka lakukan untuk menakut nakuti Muhammad dan pengikut pengikutnya. Tapi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya sama sekali tidak merasa takut, meski juga tidak berani melakukan perlawanan. Beliau dan pengikutnya tetap kokoh bagaikan tembok baja.

Nadhr bin Harits ialah Quraisy pertama yang menantang diturunkan azab bila ia salah. Atau menantang Rasulullah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membuat rumah dari emas bila benar ia seorang Nabi. Nadhr memang ditugaskan oleh para petinggi Quraisy untuk mempengaruhi masyarakat agar membenci Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagai penyair hebat Nadhr  berkata, “Wahai kaum Quraisy, kalian berhadapan dengan masalah yang sulit untuk dicarikan jalan keluarnya. Muhammad pernah menjadi pemuda yang paling kalian sukai karena kejujuran dan integritasnya.

Kemudian ia datang membawa agamanya dan kalian katakan ia tukang sihir.

Tidak! Demi Allah, ia bukan tukang sihir. Kita tahu bagaimana tingkah laku tukang sihir.

Lalu, kalian katakan ia peramal.

Tidak! Demi Allah, ia bukan peramal. Kita tahu bagaimana para peramal mengalami kerasukan dan membaca mantra.

Kalian juga katakan ia penyair. Tidak! Demi Allah, ia bukan penyair. Kita tahu semua jenis syair. Apa yang dikatakannya bukanlah syair indah, tetapi lebih dari itu.

Lalu, kalian katakan ia gila. Tidak! Ia tidak gila! Kita tahu ciri-ciri orang gila dan ia sama sekali tidak memiliki ciri-ciri itu. Jadi, pertimbangkanlah masak-masak persoalan ini. Demi Allah, ini bukan persoalan yang bisa dianggap remeh!”

Begitulah, segala upaya mereka lakukan untuk menghentikan dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Akhirnya, mereka sepakat agar dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam gagal, mereka akan melancarkan tipu daya kepada masyarakat. Mereka akan menyebarkan dusta bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang pembohong, gila dan tukang sihir.

Dibuatlah berita bohong tentang Muhammad dan mereka sebar ke seluruh penjuru Jazirah Arab dan tak lupa juga ke Habsyah. Berita bohong yang mereka sebarkan adalah Muhammad pembohong, orang gila, dan tukang sihir. Meskipun demikian, Allah memiliki rencana lain atas tersiarnya berita bohong tersebut. Orang-orang yang berdatangan pada musim haji ramai-ramai membicarakan Muhammad. Tentu saja hal ini menimbulkan rasa penasaran mereka untuk mengenal lebih jauh tentang Muhammad. Akhirnya, banyak dari mereka yang memeluk Islam setelah mendengar secara langsung dakwah yang Rasulullah saw sampaikan.

Dalam menghadapi Muhammad, Nadhr memiliki strategi yang licik. Ia selalu membuntuti Muhammad kemanapun Muhammad pergi. Dan bila Muhammad tengah berbicara dan membacakan ayat ayat Al Quran, ia baru mulai beraksi.

Nadhr berusaha mengalihkan perhatian masyarakat Quraisy (atau dari kabilah manapun) dari mendengarkan ayat ayat Al Quran.  Sehingga turunlah surat Luqman [31] ayat 6 – 7 :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِي

“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat–ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih”

Lalu Nadhr akan mengatakan bahwa Al-Quran tak lebih dari dongeng dongeng purbakala yang tidak pernah diketahui kepastian kejadiannya.  Kalau soal dongeng, Nadhr memang  memiliki setumpuk referensi dongeng yang ia dapat dari pelbagai negri yang disambanginya. Terutama dongeng dari kerajaan Persia kuno.

‘Aku akan ceritakan dongeng yang jauh lebih hebat dari dongeng yang diceritakan Muhammad. Dongeng Muhammad tak lebih dari cerita orang orang kuno. Tapi dongeng milikku jauh lebih hebat karena ia berisi dongeng dari berbagai kerajaan di Jazirah maupun Parsi’.”

Sehingga turunlah Surat Al Anfaal [8] ayat 31,

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَذَا إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat–ayat Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala.”

Setelah puas mendongeng, Nadhr akan mengiming imingi dengan kenikmatan dan kesesatan. Adakalanya dengan mengajak mereka menenggak minuman keras. Terkadang juga membujuk mereka untuk bersenang-senang. Berburu dan kemudian main perempuan.

Nadhr adalah contoh salah satu tokoh kafir Quraisy yang menghalangi dakwah Islam tidak secara frontal atau langsung. Tipu muslihatnya dilakukan dengan tidak main fisik, melainkan dengan kata kata. Ia memadamkan cahaya Islam dengan jubah Islam. Pertama ia akan mengakui bahwa ayat ayat Al-Quran yang dibawa Muhammad adalah baik dan indah. Setelah memuji dan yakin orang orang mulai menaruh perhatian padanya, barulah Nadhr membacakan dongeng dongeng miliknya sendiri. Yang dikatakannya berasal dari berbagai belahan tempat yang ia kunjungi. Nadhr bin Harits memang seseorang yang memiliki pengalaman dan jaringan yang luas dan kuat.

Setelah itu baru ia menjadikan Al-Quran sebagai bahan ejekan. Lalu mengacaukan pembacaan Al-Quran dengan berbagai cara, antara lain, dengan siulan, musik, nyanyian, dan tepukan tangan. Tetapi segala tipu daya  yang ditempuh oleh An Nadhr tidak membuahkan hasil. Malahan ia mendapat ancaman dari Allah SWT dengan azab yang pedih.

Tipu daya Nadhr mirip yang dilakukan oleh orang orang munafik. Tapi di periode Mekah ini, di saat itu, belum muncul orang orang munafik. Sehingga tidak ada orang munafik di Mekah. Orang orang munafik baru muncul ada di Madinah.

Di Mekah, hanya ada 2 kubu. Yakni kubu Muhammad atau kubu kafir Quraisy. Tidak ada kubu ‘abu abu’, di Madinah-lah baru muncul orang ‘abu abu’.

Berkenaan dengan tipu daya Nadhr, maka turunlah surat Al Fushshilat ayat 26 – 27,

 وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Dan orang-orang yang kafir berkata, ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).'”

فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا عَذَابًا شَدِيدًا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.”

Setelah dongeng dongengnya tidak mempan untuk menghentikan orang orang dari keterpesoaan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Nadhr bin Harits mulai menantang beliau.

‘Jika benar kau adalah utusan Allah, coba kau pancarkan mata air disini. Atau jadikan kebun kurma dan anggur di Mekah, dengan sungai sungai di celah kebun yang deras airnya.  Atau mengapa kau tak punya rumah dari emas ? Atau mengapa kau tidak naik ke langit menemui malaikat?’

Tidak cukup melecehkan, Nadhr malah menantang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan meminta ditimpakan azab.

‘Coba saja, jika Al Quran itu benar, hujanilah kami degan batu dari langit atau azab kami dengan pedih.’

Inilah ayat ayat yang turun berkenaan dengan si penyair jahanam, Nadhr bin Harits. Surat Al Anfaal [8] ayat 31,

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَذَا إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat–ayat Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala.”

 وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”

 

Surat Al Ma’aarij [70] ayat 1, “Seseorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi,”

Pada waktu perang Badar, An Nadhr turut serta keluar bersama kaumnya. Ia termasuk tawanan perang kaum muslimin. Karena selama ini ia terus menerus melecehkan Al Quran, dan menghalang-halangi syiar Islam, maka Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam menolak tebusan untuknya.

Dan ia meninggal dunia dalam keadaan tetap musyrik. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat–ayat Kami, mereka berkata,

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَذَا إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ

“Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat–ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala.” (Qs. Al Anfaal [8] ayat 31)

Di jaman modern, semakin banyak kita temui Nadhr Nadhr baru. Para pengikut Nadhr. Orang orang yang mengaku Islam namun tidak mengakui kebenaran Al-Quran. Mereka melecehkan Al-Quran dengan cara cara yang rendah, seperti menafsirkan Al-Quran dengan berdasarkan hawa nafsu.

Mereka bahkan menantang umat Islam dengan meminta Azab diturunkan atas mereka, jika mereka salah. Persis seperti yang dilakukan Nadhr bin Harits, 1400 tahun yang lalu.

Memang betul, semua kejadian di muka bumi ini hanya berupa pengulangan pengulangan. Itu sebabnya Al Quran lebih banyak bercerita tentang kisah kisah lalu, sebagai bahan pelajaran umat manusia. []

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline