Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Mereka Berusaha Membuat Kerancuan bagi Rasulullah

0

Sesungguhnya di antara pendeta-pendeta Yahudi dan orang-orang kafir Yahudi yang kisahnya disebutkan dalam Al-Qur’an. Di antara kisah-kisah itu, ada yang bertanya kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam, dan membuat kerancuan bagi beliau untuk mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebatilan adalah Yasir bin Akhthab dan saudaranya.

Suatu ketika Abu Yasir bin Akhthab berjalan melintasi di hadapan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam dan saat itu beliau sedang membaca surat Al-Baqarah, ‘Alif’ laam mim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya (QS. al-Baqarah: 1-2). Kemudian Yasir bin Akhthab menjumpai saudaranya, Huyay bin Akhthab yang tengah berkumpul bersama orang-orang Yahudi.

Abu Yasir bin Akhthab berkata, “Demi Allah, ketahuilah, baru saja aku mendengar Muhammad membaca apa yang diturunkan padanya ‘Alif’ laam mim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya (QS. al-Baqarah: 1-2)

Orang-orang Yahudi berkata, “Apakah engkau benar-benar mendengarnya?

Yasir bin Akhthab menjawab, “Benar.”

Huyay bin Akhthab bersama orang-orang Yahudi segera beranjak dan berangkat untuk menjumpai Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam. Kemudian mereka berkata: “Wahai Muhammad, telah dikbarkan kepada kami bahwa engkau membaca apa yang diturunkan kepadamu? “Alif’ laam mim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya (QS. al-Baqarah: 1-2).

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya, benar.”

Orang-orang Yahudi berkata, “Apakah ayat Al-Qur’an itu dibawa Jibril dari sisi Allah?”

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya, benar.”

Orang-orang Yahudi berkata, “Sungguh Allah telah mengutus beberapa nabi sebelum engkau. Kami tidak mengetahui Allah menjelaskan kepada salah seorang nabi itu tentang masa kekuasaannya, dan masa kekuasaan umatnya selain pada dirimu.”

Huyay bin Akhtab berkata sambil menghadap pada orang-orang yang datang bersamanya: “Alif satu, laam tiga puluh, dan miim empat puluh. Jadi jumlah keseluruhannya tujuh puluh satu tahun. Apakah kalian akan menganut agama yang masa kekuasaannya hanyalah tujuh puluh satu tahun saja?.”

Kemudian Huyay bin Akhthab menemui Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam, dan berkata, “Hai Muhammad, apakah engkau mempunyai ayat lain selain ayat tadi?”

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ya!”.

Huyai bin Akhthab berkata, “Bagaimana bunyinya?”

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam membaca ayat, ‘Alif laam miim shaad (QS. al-A’raaf: 1)

Huyai bin Akhthab berkata, “Demi Allah, ayat ini jauh lebih berat dan lebih panjang. Alif satu, laam tiga puluh, miim empat puluh dan shaad adalah sembilan puluh. Jadi jumlah keseluruhannya adalah seratus enam puluh satu tahun. Apakah engkau mempunyai ayat yang lain, wahai Muhammad?”

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya.”

Huyay bin Akhthab berkata, “Bagaimana bunyinya?”

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam membaca ayat, ‘Alif laam raa’ (QS. Yunus: 1)

Huyay bin Akhthab berkata: “Demi Allah, ini jauh lebih berat dan lebih panjang. Alif satu, laam tiga puluh dan raa’ dua ratus. Jadi jumlah keseluruhannya adalah dua ratus tiga puluh satu tahun. Apakah engkau masih memiliki ayat yang lain, wahai Muhammad?”

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya.”

Huyay bin Akhthab berkata: “Bagaimana bunyinya?”

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam membaca ayat: Alif laam mim raa (QS. ar-Ra’d: 1).

Huyay bin Akhthab berkata: “Ini lebih jauh berat dan lebih panjang. Alif satu, laam tiga puluh, miim empat puluh, dan raa’ dua ratus. Jadi jumlah keseluruhannya dua ratus tujuh puluh satu tahun. Wahai Muhammad, masalahnya menjadi sangat kompleks bagi kami, hingga kami tidak mengerti apakah engkau diberi banyak atau sedikit?”

Kemudian orang-orang Yahudi itu pergi.

Abu Yasir bin Akhthab berkata kepada saudaranya, Huyay bin Akhthab dan pendeta-pendeta Yahudi yang ikut bersamanya: “Tahukah kalian barangkali jumlah tadi diberikan kepada Muhammad, yaitu tujuh puluh satu, seratus enam puluh satu, dua ratus tiga puluh satu, dan dua ratus tujuh puluh satu. Jadi jika dijumlah keseluruhannya maka menjadi tujuh ratus tiga puluh empat tahun.

Pendeta-pendeta Yahudi berkata: “Persoalannya menjadi sangat kompleks bagi kami.”

Para ulama meyakini bahwa ayat di bawah ini (yang artinya) Allah turunkan karena ulah mereka:

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al- Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. (QS. Ali Imran: 7).

Ibnu Ishaq menuturkan: Aku mendengar dari ulama kredibel yang tidak aku ragukan integritasnya berkata bahwa ayat di atas diturunkan atas warga Najran yaitu pada saat mereka bertemu dengan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam untuk bertanya tentang Isa bin Maryam ‘Alaihissalam.

Ibnu Ishaq melanjutkan: Muhammad Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata kepadaku bahwa ia mendengar ayat di atas diturunkan untuk beberapa orang Yahudi namun dia tidak memberikan rinciannya lebih lanjut kepadaku. Wallahu a’lam mana yang lebih benar. []

 

Referensi: Sirah Nabawiyah perjalanan lengkap Kehidupan Rasulullah/ Asy Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani/ Akbar Media

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline