Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Mengapa Tidak Ada yang Mau Membunuh Muhammad ketika Ia Berjalan-jalan Di Pasar?

0

Suatu hari, usai Perang Badar, di hadapan kaum Quraisy Makkah, Abu Sufyan berkata, “Mengapa tidak ada orang yang mau membunuh Muhammad ketika ia berjalan-jalan di pasar? Kita harus menuntut balas!”

Seorang Arab pedalaman mendatangi Abu Sufyan di rumahnya dan berkata, “Jika kau mau memberiku bekal, aku akan membunuh Muhammad. Aku pandai menemukan jalan-jalan rahasia ke Madinah. Aku pun sangat mahir mengenal arah, dan pisauku pun selalu terasah tajam.”

Tentu saja Abu Sufyan sangat senang dan berkata, “Engkau sahabatku.” Lalu, ia memberinya unta dan perbekalan. Tak lupa, Abu Sufyan juga berbisik, “Rahasiakan perjanjian ini. Aku tidak mau seorang pun mendengarnya. Aku takut seseorang menyampaikannya kepada Muhammad.”

Orang Arab itu berjanji, “Ya, aku berjanji. Tidak akan ada seorang pun yang mengetahuinya.”

Selanjutnya, ia berangkat menuju Madinah. Setelah seminggu perjalanan, ia tiba di Madinah. la mencari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan melihatnya sedang bersama para sahabat di masjid. Maka, dengan hati-hati ia memasuki masjid. Saat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau berkata kepada para sahabat, “Orang ini bermaksud buruk, tetapi Allah akan menghalanginya dari apa yang direncanakannya.”

Setelah berada di dalam masjid, orang Arab itu bertanya, “Manakah anak Abdul Muthalib?”

“Aku, anak Abdul Muthalib,” jawab Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tenang.

Orang Arab ini mendekati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu merunduk ke arah sebelah kiri beliau. Usaid ibn Khudhair, seorang Anshar, bangkit dari duduknya dan membentaknya, “Jangan dekati Rasulullah!” la sentakkan sesuatu dari dalam baju orang itu dan merampas pisaunya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Memang, ia punya niat buruk.”

Dalam cengkeraman Usaid, laki-laki itu merengek, “Lindungilah darahku, wahai Muhammad!”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Jawablah dengan jujur. Saat ini, hanya kejujuran yang bisa menyelamatkanmu. Jangan berdusta, karena aku sudah mengetahui apa yang kaurencanakan!”

“Apakah aku akan dilindungi?”

“Ya, kau aman.”

Maka, ia menceritakan perjanjiannya dengan Abu Sufyan untuk pergi ke Madinah dan membunuh Rasulullah. Setelah itu, beliau menyuruh Usaid untuk menahan dan mengawasi laki-laki itu. Keesokan harinya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memanggil orang Arab itu dan berkata, “Aku sudah memberikan perlindungan kepadamu. Sekarang, pergilah ke mana pun yang kau suka atau pilihlah yang paling baik untukmu.”

“Apakah yang paling baik untukku?”

“Ucapkanlah, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan-Nya!”

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan-Nya. Aku yakin, kau dalam kebenaran dan pasukan Abu Sufyan adalah pasukan setan.”

Orang Arab itu sempat tinggal di Madinah beberapa hari, kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya pergi. Sejak hari itu, tidak ada yang mengetahui keberadaan laki-laki itu. Usai kejadian ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengutus dua orang untuk membunuh Abu Sufyan. Sayang, karena ceroboh, keduanya gagal menjalankan tugas, bahkan mereka nyaris terbunuh. []

Sumber: 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah Saw./ Penulis: Fuad Abdurahman/ Penerbit: Naura Book

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline