Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah Nabi Ilyas dan Seorang Janda

0

Nabi Ilyas adalah putra Yasin bin Finhash dan salah satu keturunan Nabi Harun. Nabi Ilyas tinggal di negeri Isra’il, ketika negeri itu dipimpin oleh seorang raja yang kejam. Nama raja yang jahat itu adalah Ahab. Raja Ahab menyuruh orang Isra’il untuk menyembah patung dan dewa-dewa. Mungkin dialah raja Isra’il yang paling jahat.

Oleh karena kejahatan Raja Ahab, Allah SWT menyuruh Nabi Ilyas pergi kepada Raja Ahab dan berkata, “Selama dua atau tiga tahun tidak akan ada embun atau hujan sedikit pun, kecuali saya mengatakannya! Maka dari itu, bertaubatlah kepada Allah, dan sembahlah Allah!”

Kemudian Raja Ahab menjadi kesal dan marah kepada Nabi Ilyas dan berusaha untuk membunuhnya.

Setelah itu Allah SWT berfirman kepada Nabi Ilyas, “Pergilah ke anak Sungai Kerit dan bersembunyilah di sana. Engkau dapat minum dari anak sungai itu, dan burung gagak akan Kusuruh membawa makanan untukmu!”

Saat Nabi Ilyas dikejar-kejar oleh Raja Ahab dan bala tentaranya, Nabi Ilyas ketakutan dan bersembunyi di anak Sungai Kerit. Beliau minum dari anak sungai itu, makan roti dan daging yang dibawa oleh burung gagak setiap pagi dan setiap sore. Setelah beberapa waktu lamanya, anak sungai itu pun kering karena tidak ada hujan.

Saat Nabi Ilyas disana, kemudian datanglah bala tentara Raja Ahab untuk membunuh Nabi Ilyas. Saat Nabi Ilyas dikejar-kejar oleh bala tentara Raja Ahab, Nabi Ilyas ketakutan dan bersembunyi di dalam rumah Nabi Ilyasa.

Ketika Nabi Ilyas bersembunyi di dalam rumah Nabi Ilyasa, pada saat itu Nabi Ilyasa masih seorang belia. Saat itu dia tengah menderita sakit kemudian Nabi Ilyas membantu menyembuhkan penyakitnya.

Setelah sembuh, Nabi Ilyasa pun menjadi anak angkat Nabi Ilyas yang kemudian selalu mendampinginya dalam berdakwah. Namun Nabi Ilyasa saat itu belum dilantik menjadi seorang Nabi Allah, dia masih tinggal bersama orang tuanya dan suka membajak lembu dan sapinya. Kemudian Nabi Ilyas pergi dari rumah Nabi Ilyasa dan sampailah beliau di Kota Sarfat.

Ketika Nabi Ilyas tiba di kota itu, ia melihat seorang janda yang sedang mengumpulkan kayu api. Ketika itu Nabi Ilyas AS sedang merasa lapar dan haus dahaga.

Lalu Nabi Ilyas as mendekati janda itu dan berkata, “Ibu, tolong ambilkan sedikit air minum untuk saya!”

Ketika janda itu sedang berjalan untuk mengambil air itu, Nabi Ilyas As berseru, “Ibu, bawakanlah juga sedikit roti!”

Janda itu menjawab, “Maaf, Pak, saya bersumpah bahwa saya tidak punya roti. Saya hanya mempunyai segenggam tepung terigu di dalam mangkuk, dan sedikit minyak zaitun di dalam botol. Saya sedang mengumpulkan kayu api untuk memasak bahan yang sedikit itu supaya saya dan anak saya bisa makan. Itulah makanan kami yang terakhir; sesudah itu kami pun akan mati!”

“Jangan khawatir, Ibu! Silakan Ibu membuat makanan untuk Ibu dan anak Ibu. Tapi sebelum itu buatlah dahulu satu roti kecil dari tepung dan minyak itu, dan bawalah kepada saya. Sebab Allah SWT, satu-satunya Tuhan yang patut disembah, mengatakan bahwa mangkuk itu akan selalu berisi tepung, dan botol itu akan selalu berisi minyak sampai Allah SWT mengirim hujan ke bumi!” kata Nabi Ilyas kepadanya.

Janda itu percaya kepada kata-kata Nabi Ilyas. Ia pergi untuk melakukan apa yang dikatakan Nabi Ilyas. Ia membuat roti kecil dan memberikannya kepada Nabi Ilyas. Nabi Ilyas makan, dan janda itu membuat roti juga untuk dirinya sendiri dan untuk anaknya.

Hari berikutnya masih ada sedikit tepung dan sedikit minyak untuk membuat roti lagi. Seperti yang sudah dikatakan Allah SWT melalui Nabi Ilyas, mangkuk itu selalu berisi tepung, dan botol itu pun selalu berisi minyak. Mereka bertiga mempunyai cukup persediaan makanan untuk hampir 3 tahun selama musim kemarau itu yang panjang sekali.

Beberapa waktu kemudian anak janda itu jatuh sakit dan meninggal. Janda itu memanggil Nabi Ilyas dan berkata, “Hai Hamba Allah, apa yang terjadi dengan anak saya? Mengapa anak saya meninggal dunia?”

Nabi Ilyas mengambil anak laki-laki itu dan membawanya ke kamarnya sendiri. Nabi Ilyas membaringkan anak itu di atas tempat tidur, lalu berdoa, “Yaa Allah, Yaa Rabbku, mengapa Engkau mendatangkan kemalangan ini terhadap janda ini? Ia sudah memberi roti kepadaku dan sekarang Engkau mencabut nyawa anaknya!”

Tiga kali Nabi Ilyas menelungkupkan badannya di atas anak itu, sambil berdoa, “Yaa Allah, Yaa Rabbku, aku mohon kepada-Mu, kembalikanlah ruh anak ini ke dalam jasadnya biar dia hidup lagi dengan normal!”

Allah SWT mendengarkan doa Nabi Ilyas, anak itu mulai bernapas dan hidup kembali. Lalu Nabi Ilyas membawa anak itu kepada ibunya dan berkata, “Ibu, ini anak Ibu! Ia sudah hidup kembali!”

Janda itu menjawab, “Sekarang saya tahu bahwa Bapak adalah hamba Allah dan perkataan Bapak memang benar dari Allah SWT!” []

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline