Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah di atas Tempat Tidur Kematian

0

Ketika ajal hendak mendatangi Abdullah ibn Idris (seorang ahli ibadah dan zuhud), dia merasa sangat sedih. Saat itu anak-anaknya menangis.

Lalu, ketika nyawanya hendak dicabut dia berkata, “Wahai anakku, jangan kalian menangis, sebab saya telah menghatamkan al-Qur’an di rumah sebanyak empat ribu kali, semua aku lakukan untuk menghadapi maut ini.”

Akhiranya ketika Amir ibn Abdillah ibn Zubair sedang menghadapi sakaratul maut, seluruh keluarganya ber-kumpul di sekelilingnya seraya menangis. Lalu, ketika ajalnya hampir tiba, tiba-tiba ia mendengar suara adzan Maghrib. Disebutkan, saat itu nafasnya sudah sampai di tenggorokan, dan waktu sakaratul mautnya menjadi berat serta kesedihannya bertambah.

Maka ketika dia mendengar adzan, dia kemudian berkata kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, peganglah tanganku.”

Orang-orang kemudian bertanya “Engkau hendak kemana?”

dia menjawab “Ke masjid.”

Mereka pun bertanya keheranan, “Dengan keadaanmu seperti ini?”

Dia menjawab, “Maha Suci Allah, aku mendengar suara adzan dan tidak mendatangi shalat, peganglah tanganku!”

Maka, keluarganya pun akhirnya memapahnya ke masjid. Dan sesampainya di masjid, Amir ibn Abdullah langsung mengerjakan shalat. Namun, baru mendapat satu rakaat bersama imam, ia wafat dalam sujudnya.

Ketika Abdurrahman ibn Aswad hendak wafat, beliau menangis, kemudian beliau ditanya “Apa yang menyebabkan engkau menangis, sementara engkau selalu beribadah dan khusyu’, zuhud dan rendah hati?”

Ia menjawab, “Demi Allah, saya menangis karena menyesal akan meninggalkan shalat dan puasa.”

Beliau mengucapkan perkataan itu terus menerus hingga wafat. Yazid al-Raqqasyi, ketika hendak wafat beliau menangis dan kemudian berkata, “Siapa yang akan melaksanakan shalatmu wahai Yazid jika engkau telah me-ninggal? Siapa yang berpuasa untukmu? Siapa yang memintakan ampun dari beberapa dosa untukmu?”

Setelah itu dia membaca syahadat dan kemudian meninggal. []

Sumber: 165 Nafas-nafas Cinta, Kidung Cinta Rabiah Al-‘Adawiyah/Penulis:Rudyiyanto/Penerbit: Srigunting,2010

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline