Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ketika Dunia Berada dalam Kegelapan

0

Bumi dalam keadaan sangat membutuhkan sentuhan cahaya Islam dan peradaban guna memperbaiki sisi kezhaliman yang bertimbun-timbun, menjauhkan mendung yang berada di atas pundak kemanusiaan. Secara umum dalam pandangan undang-undang dunia sebelum Islam, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Iyadh bin Hamr, “Sesungguhnya Allah melihat kepada para penghuni bumi, maka Allah memurkai mereka, baik dari kalangan Arab maupun non Arab kecuali tersisa sedikit dari kalangan Ahli Kitab.”

Ketika itu, kondisi manusia telah sampai pada titik rendah yang membuat Allah murka kepada mereka. Rasulullah menggunakan kalimat (Baqaya: sisa) yang diberi wahyu mengikuti jejak para Nabi. Sepertinya mereka mengikuti jejak masa yang telah punah, namun tidak bernilai dan tidak berkiprah dalam realitas manusia. Sedang di sisi lain, sisa-sisa ini tidak mempunyai identitas dalam komunitas sempurna, hanya sebatas individu yang bermacam-macam.

Abu Hasan An-Nadawi merinci keadaan tersebut saat dia mengatakan, “Secara umum tidak terdapat di atas muka bumi ini—sebelum diutusnya Rasulullah shalallahu ‘aialihi wa sallam—umat yang saleh dan mampu memberi warna. Tidak ada masyarakat yang berdiri di atas dasar-dasar akhlak dan kemuliaan. Tidak pula mahkamah yang menegakkan dasar-dasar keadilan dan rahmat. Tidak pula pemimpin yang membangun di atas ilmu dan hikmah. Tidak pula agama shahih dari jejak para Nabi.”

Keadaan waktu itu benar-benar rusak. Jatuh dan tersungkur dari alam kemanusiaan dan ruang lingkupnya. Kerusakan telah begitu merajalela dalam setiap sisi kehidupan, politik, ekonomi, masyarakat, agama sama rata. Dunia tenggelam dalam kegelapan yang keruh, tidak menghukumi kecuali dengan kebodohan, tenggelam dalam lautan yang berbenturan dengan khurafat dan tahayul. Tidak berjalan kecuali dengan hawa nafsu dan keserakahan.

Ketika itu manusia menyembah batu-batu, matahari, bulan dan api hingga hewan. Mereka membagi lingkar kehidupan menjadi tuan dan budak. Makan harta anak yatim, memutuskan tali hubungan kekerabatan, pergaulan mereka di atas pembunuhan dan perampokan serta penjarahan, sebagaimana mereka saling berbangga dengan penyimpangan dan keburukan serta dosa-dosa….tidak ada hukum syariat yang memutuskan.

Tidak ada undang-undang kecuali hukum rimba, yang kuat memakan dan memusnahkan yang lemah, yang kaya menjadikanorang miskin sebagai budak, semuanya dalam kegelapan, tidak mendapati akhir kesudahan dan tidak pula jalan keluar. Semua itu membuat manusia seluruhnya menjadi bingung dan terlantar.Tidak ada dalam hatinya kecuali rasa takut dan khawatir. Tidak ada dalam akal pikirannya kecuali hilang akal dan penuh khurafat.

Demikianlah kondisi manusia sebelum peradaban Islam! Begitulah undang-undang yang berlaku di dunia sebelum Islam. Terlebih lagi pada batas kurun kelima dan enam Masehi, dimana ketika itu reduplah peradaban-peradaban dunia di segala lini kehidupan.

Ketika itu urusan sudah di atas jurang kehancuran oleh banjir yang menghanyutkan, sebagaimana dikatakan Denison, “Dalam dua kurun kelima dan enam sesudah kelahiran Masehi, dunia dalam kondisi kritis di atas jurang kehancuran oleh banjir menerjang, karena akidah-akidah yang menentukan tegaknya peradaban telah hancur musnah. Tidak ada yang tersisa dan berdiri di atas bangunannya. Ketika itu terlihatlah bahwa sebuah kota besar yang telah bersusah payah membangunnya dengan kesungguhan selama empat ribu tahun menjadi ketua atas perpecahan dan penjajahan. Ketika itu, manusia telah ragu untuk kembali lagi, untuk kedua kalinya berada dalam kehancuran. Sebab, kabilah-kabilah saling berperang dan membunuh. Tidak ada undang-undang dan aturan. Undang-undang yang dibuat Masehi, hanya digunakan secara terpisah-pisah dan rusak sebagai ganti dari kesatuan dan keteraturan.

Dengan keadaan yang seperti ini, sebuah kota (negara) ibarat sebuah pohon besar bercabang-cabang yang menjulurkan naungannya ke seluruh alam dunia, menjadi terhenti dan lemah, minum darinya segala jenis kerusakan sampai ke akarnya. Demikianlah undang-undang itu terus berjalan sampai terbitlah fajar peradaban Islam, memancarkan cahayanya, menjadi hadiah bagi manusia. []

Sumber: Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia/ Penulis: Prof. Dr. Raghib As-Sirjani/ Penerbit: Pustaka Al-Kautsar/ 2009

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline