Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ketidakadilan yang Pertama

0

Suatu saat `Umar bin Khattab bersengketa dengan Ubay bin Ka’ab. Sahabat terakhir itu berasal dari Bani Al-Najjar, Madinah dan bernama lengkap Abu Al-Mundzir Ubay bin Ka’ab bin Qais Al-Anshari Al-Khazraji.

Sebelum memeluk Islam, dia adalah seorangpendeta Yahudi untuk Kota Yatsrib yang mahir membaca dan memiliki pengetahuan yang luas tentang agama Yahudi. Tak aneh jika tentang diri sahabat yang satu ini, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam berucap, “Umatku yang paling ahli membaca adalah Ubay bin Ka`b.”

Selepas memeluk Islam, tokoh yang terkenal berpenge-tahuan luas ini diangkat sebagai salah seorang pencatat wahyu dan orang pertama yang menuliskan wahyu bagi Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam selepas hijrah. Ketika `Umar memasuki Bait Al-Maqdis, dia yang menulis perjanjian dengan warga kota itu. Dia juga ikut terlibat dalam panitia penghimpunan Al-Quran pada masa pemerintahan `Utsman bin Affan dan menuturkan sebanyak 164 hadis sahih.

Sahabat yang dituturkan meninggalkan tulisan-tulisan tentang tafsir Al-Quran dalam jumlah besar ini meninggal dunia di Madinah pada 30 H/651 M. Merasa tidak terima dengan perdamaian yang dikemukakan `Umar, Ubay pun mengadukan sang khalifah ke pengadilan yang kala itu dipimpin oleh Zaid bin Tsabit.

`Umar pun datang ke pengadilan dan tampil sebagai tertuduh. Melihat kedatangan sang khalifah, Zaid segera menyambutnya dan menunjukkan hormatnya kepadanya.

Menerima perlakuan demikian, sang khalifah pun berkata, “Zaid, ini adalah ketidakadilanmu yang pertama.”

Selepas berkata demikian, ‘Umar bin kemudian duduk di samping Ubay bin Kab. Dalam sengketa itu, Ubay tidak memiliki bukti dan `Umar menyangkal tuduhan yang ditujukan kepada dirinya. Menurut kebiasaan, si penuduh menghendaki agar si tertuduh mengangkat sumpah. Mengingat kedudukan si tertuduh sebagai Amirul Mukminin, Zaid meminta Ubay untuk meninggalkan haknya atas pengangkatan sumpah terhadap sang khalifah.

Menerima perlakuan yang berat sebelah itu dan menguntungkan dirinya, `Umar pun merasa jengkel. Lalu, dia berucap kepada Zaid, “Zaid! Jika `Umar dan orang lain mana pun tidak kau perlakukan sama, engkau tidak pantas menjabat sebagai hakim!” []

Sumber: Pesan Indah dari Makkah & Madinah.Penulis: Ahmad Rofi’ Usmani/Penerbit: Mizania

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline