Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kau Ini Seorang Hamba, Bukan Raja

0

Suatu ketika di tengah perjalanan, Khalifah Harun Ar-Rasyid bertemu dengan Bahlul. Bahlul yang dianggap gila itu kebetulan sedang duduk merenung di atas kuburan.

Sang Khalifah pun mendekat dan mengawali pembicaraan dengan nada sedikit mengejek, “Hai Bahlul, hai orang gila. Kapan kau sembuh dan bisa berfikir dengan benar?”

Seketika itu Bahlul langsung lari dan naik ke atas pohon.

Lalu ia berteriak dengan suara lantang. “Hai Harun, hai orang gila. Kapan kau sembuh dan bisa berfikir dengan benar?”

Kemudian Khalifah Harun pun mendekatinya ke bawah pohon sembari masih menaiki kudanya.

Lalu Ia berkata pada Bahlul, “He, aku yang gila atau kamu yang duduk di atas kuburan itu (yang gila)?”

“Kamu yang gila,” ujar Bahlul dengan sedikit membentak.

“Bagaimana bisa?” jawab Sang Khalifah.

“Karena aku tahu, bahwa itu (sambil menunjuk ke arah istana Khalifah Harun) akan sirna. Dan ini (sambil menunjuk ke arah kuburan) akan abadi. Dan aku pun membangun ini sebelum (masuk) ini. Sedangkan kamu hanya fokus membangun istana dan merobohkan (melupakan) kuburanmu. Kau lebih memilih istanamu daripada kuburanmu, padahal mau nggak mau kuburan adalah tempat kau berpulang!”

“Sekarang katakan padaku, siapa sebenarnya yang gila, aku atau kamu?” lanjut si Bahlul.

Jawaban cerdas Bahlul itu pun membuat hati Sang Khalifah tergoncang. Ia mulai menyadari kesalahan berfikirnya. Ia pun menangis tersedu sampai jenggotnya basah dipenuhi air mata.

“Demi Allah, kau benar wahai Bahlul,” ujar sang Khalifah dengan nada lembut. “Tambahkan lagi nasihatmu padaku wahai Bahlul!”

“Cukup dengan Kitab Allah, peganglah erat-erat!” kata Bahlul.

Related Posts

Kematian Abdullah bin Bushr, Anak Satu Abad

“Apa kau punya keperluan atau keinginan, aku akan memenuhinya,” ujar Sang Khalifah.

Bahlul pun menjawab. “Iya, aku punya tiga keinginan, jika kau memenuhinya aku akan sangat berterima kasih padamu.”

“Katakan apa itu,” tanya Kahlifah.

“Tambahkan umurku!” kata Bahlul.

“Aku tak bisa,” jawab Sang Khalifah.

“Lindungi aku dari malaikat pencabut nyawa!”

“Aku tak bisa.”

“Masukkan aku ke dalam surga, dan jauhkan aku dari api neraka!”

“Aku tak bisa,” jawab sang khalifah.

Lagi-lagi Sang Khalifah tak mampu memenuhi keinginan Bahlul.

Lalu Bahlul, berkata: “Ketahuilah, Kau ini seorang hamba, bukan raja! Maaf, aku tak punya keinginan darimu.” []

Baca juga: Selama 40 Tahun, Bani Israil Terluntang-lantung di Sinai

Sumber: Kitab Uqala Al-Majanin 50 Kisah Muslim Genius yang Dianggap Gila dalam Sejarah Islam/Penulis: Abu Al-Qasim An-Naisaburi/Penerbit: Wali Pustaka

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline