Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Dialah Penghuni Pertama di Wilayah Itu!

0

Dengan adanya mata air dan telaga zam-zam yang berada di tengah gurun pasir di wilayah Makkah itu, tentu saja biasanya mengundang kehadiran burung-burung. Di sebuah padang pasir yang tandus, barang tentu air merupakan barang yang langka. Burung-burung pun banyak yang beterbangan di atas telaga zam-zam dan hinggap untuk mengecap air minum. Hal ini diketahui oleh suku Jurhum dari jarak yang sangat jauh.

Suku jurhum adalah salah satu kelompok manusia yang sedang berialan-jalan beriringan untuk mencari sumber air, karena di daerahnya telah terjadi kekeringan yang amat panjang. Melihat burung-burung silih berganti terbang dan hinggap di suatu tempat, maka terjadilah percakapan di antara rombongan suku Jurhum.

“Lihatlah, sejak tadi saya melihat beberapa burung terbang dan hinggap silih berganti di daerah sana. Mungkin ada air,” ucap salah seorang diantara mereka.

“Betul. Saya kira juga begitu. Sebaiknya beberapa orang di antara kita lebih dahulu memeriksanya ke sana. Jika benar ada air, nanti segera balik ke sini untuk memberitahu yang lain. Setuju?” usul kawannya.

“Setujuuu!” seru mereka semua.

Beberapa orang dari suku Jurhum pun berangkat ke daerah padang pasir di mana ada burung terbang dan hinggap silih berganti. Sampailah mereka di tempat Hajar dan Isma’il. Suku Jurhum terkenal ramah dan baik hati. Meskipun belum saling mengenal, mereka menyapa Hajar dan Isma’il.

“Wahai saudaraku. Maaf, jika kedatangan kami agak mengejutkan. Kami adalah suku Jurhum yang sedang mencari sumber mata air. Daerah kami telah lama mengalami kekeringan panjang. Bolehkah kami tahu, siapakah Anda?” Tanya suku Jurhum.

“Aku Hajar, dan yang masih bayi ini adalah anakku, namanya Ism’il. Kami berdua adalah satu-satunya penghuni diwilayah ini,” jelas Hajar.

“Wahai saudaraku. Apakah mata air dan telaga yang jernih ini milikmu?”

“Mata air dan telaga ini merupakan karuni dari Allah, Tuhanku Yang Mahakuasa.”

“Jika tidak keberatan, bolehkah kami meminta air, dan ikut tinggal di wilayah ini?”

Hajar berpikir sejenak. Dengan mata hatinya dia bisa menangkap kesan, bahwa suku Jurhurn ini merupakan manusia yang tulus dan baik hati. Hajar berusaha menerima mereka dengan tangan terbuka, da secara ikhlas.

Hajar pun menjawab, “Boleh. Mari kita bersama-sama menghidupkan wilayah ini.”

“Terima kasih. Apakah kami boleh memberitahu teman-teman kami yang lain untuk bergabung?”

“Tentu saja boleh, silakan!”

Suku Jurhum senang, begitu pula dengan Hajar. Begitulah, dari waktu ke waktu, wilayah yang didiami Hajar dan Isma’il menjadi semakin ramai dan makmur. Penghuninya rukun padang pasir saling membantu, dan saling menyayangi. Wilayah yang dulu didiami oleh Hajar dan Isma’il, kini telah menjadi perkampungan penduduk.

Hajar sangat dibantu oleh suku Jurhum untuk membesarkan Isma’il. Semakin lama, banyak pendatang yang terus bermunculan, bukan hanya dari suku Jurhum, tapi juga dari suku-suku lainnya. Mereka semua membangun wilayah Makkah menjadi daerah yang tenteram dan makmur. Penduduk Makkah pun semakin bertambah banyak. Isma’il menikmati masa kecilnya di wilayah Makkah, terutama di tengah-tengah kebaikhatian suku Jurhum.

Sampai suatu ketika, Isrna’il telah beranjak remaja. Isma’il tumbuh menjadi remaja yang cerdas, gagah, dan tampan. Banyak gadis Makkah yang mencoba merebut hatinya. Semua penghuni Makkah belum ada yang tahu, bahwa Ismaill kelak akan menjadi seorang nabi, yakni manusia pilihan untuk memperbaiki dan menyempurnakan watak, moralitas, perilaku sosial, dan kebudayaan umat manusia. []

Sumber: Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul/ Penulis: M Arief Hakim/ Penerbit: Marja, 2003

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline