Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

dengan Ikhlas Ia Mampu Menundukan Setan

0

Di tengah suku Bani Israel hidup seoraing ahli ibadah. Suatu hari, orang-orang memberitahukan bahwa di lokasi tertentu, ada sebuah pohon yang disembah oleh suku itu. Ketika mendengar hal ini, ia menjadi murka, mengambil kapak dan berangkat untuk manebang pohon.

Setan, yang muncul di hadapannya dalam rupa seorang lelaka tua, bertanya, “Ke mana kau akan pergi?”

Orang ahli ibadah itu menjawab, “Saya akan menebang pohon yang sedang disembah sehingga orang-orang hanya akan menyembah Allah Swt sebagai gantinya.”

“Tunggu sebentar! Saya akan menyampaikan sesuatu padamu,” kata setan.

Ahli ibadah mendesaknya untuk melanjutkan.

Setan berkata,”Allah Swt memiliki para nabi, dan jika dipandang penting untuk menebang pohon, tentu Dia akan mengutus mereka untuk melakukan tugas ini.”

Namun, Ahli ibadah itu tidak setuju dengan ucapan setan dan melanjutkan perjalanan.

“Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya,” kata setan sambil marah, dan ia mulai bergulat dengan ahli ibadah itu.

Dalam pergumulan berikutnya, ahli ibadah itu dapat membanting setan ke tanah, “Tunggu! Aku punya sesuatu yang lain untuk dikatakan kepadamu,” kata setan.

“Dengarkan! Kamu adalah orang miskin, jika kamu memiliki kekayaan yang dengannya kamu bisa memberikan sedekah kepada orang-orang, itu akan jauh lebih baik daripada menebang pohon. Jika kamu menahan diri dari menebang pohon itu, aku akan meletakan dua dinar dibawah bantalmu setiap hari.”

Ahli ibadah berpikir sejenak, lalu berkata, “Jika kamu berkata benar, akau akan menggunakan satu dinar untuk sedekah dan satu lagi untuk kugunakan sendiri. Ini lebih baik daripada menebang pohon. Bagaimanapun, aku tidak diperintahkan untuk melaksanakan tugas ini dan bukanlah aku seorang nabi sehingga membebani diri dengan kesedihan dan kecemasan yang tidak perlu.”

Demikianlah ahli ibadah itu menerima permintaan setan yang meninggalkannya sendirian. Selama dua hari ia menerima uang sebanyak dua dinar dan menggunakannya sesuai rencananya. Tetapi pada hari ketiga, uang dinar yang ditunggu tidak ada. Sambil marah dan sedih, ia mengambil kapaknya dan pergi untuk menebang pohon.

Di perjalanan, ahli ibadah itu bertemu dengan setan, yang bertanya kepadanya, “Ke mana kamu hendak pergi kemana?”

“Aku akan menebang pohon itu,” jawab ahli ibadah.

“Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya,” kata setan.

Sekali lagi, mereka mulai berkelahi. Tapi kali ini, setan mampu mengalahkannya dan membantingnya ke tanah.

Lalu setan berkata, “Pulanglah atau kupenggaI kepalamu!”

Ahli ibadah berkata, “Tinggalkan aku sendiri dan aku akan kembali, tapi katakan padaku, bagaimana ini terjadi padahal sebelumnya aku berhasil mengalahkanmu?”

Setan menjawab, “Ketika itu, kamu telah memulainya untuk mencari ridha Allah Swt dan kamu tujukan niatmu sehingga Allah Swt menundukanku aku kepadamu. Tapi kali ini, kamu marah atas nama dirimu sendiri dan untuk mendapatkan dinarmu sehingga aku bisa mengalahkanmu.”

lblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamabamu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs [38]:82-83). []

Sumber: Manisnya Kopi Asin, Merajut Hati Meraih Kebahagiaan Hakiki/Penulis: Irwan Kurniawan/Penerbit: Majlis Ta’lim Ibadurrahman,2011

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline