Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Cahaya yang Menyatu dalam Tubuh dan Jiwa Rabi’ah

0

Diceritakan bahwa di antara keempat anak Ismail, Rabi’ah Al-‘Adawiyah lah yang paling siap mental maupun fisiknya untuk hidup mandiri dibanding ketiga kakaknya. Ia sering menangis karena teringat kedua orang tuanya. Namun, ia juga tak jarang menangis tanpa sebab yang ia ketahui.

Pernah suatu sore, sepulang dari sungai, Rabi’ah Al-‘Adawiyah menangis tersedu-sedu. Lalu kakaknya, Abdah menegurnya, “Apa yang sedang engkau sedihkan Rabi’ah?”

“Tak tahulah aku, namun aku merasa sedih sekali,” jawabnya.

Dan Rabi’ah Al-‘Adawiyah terus menangis. Di sela-sela isak tangisnya ia berkata, “Aku merasakan suatu kesedihan yang aneh sekali. Tak tahulah aku sebabnya. Seolah-olah ada suatu jeritan di lubuk hatiku yang menyebabkan aku menangis. Bagaikan suatu munajat di dalam pendengaranku, yang tak dapat aku hadapi, kecuali dengan mengucurkan air mata.”

Setelah peristiwa tersebut, Rabi’ah selalu mimpi pada malam hari, berulang-ulang dengan mimpi yang sama. Dalam mimpi itu, Rabi’ah melihat cahaya yang amat terang, yang akhirnya menyatu dalam tubuh dan jiwanya.

Tak beberapa malam mimpi itu hadir dalam tidurnya. Maka, pada saat Rabi’ah sendirian di atas perahunya, tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat merdu.

“Lebih indah dari senandung serunai yang merdu

Di kegelapan malam terdengar bacaan Qur’an

Related Posts

Mengenal Siti Maryam Kedua

Alangkah bahagianya karena Tuhan mendengarnya

Suara yang merdu membangkitkan keharuan

Dan air mata pun bercucuran

Pipinya sujud menyentuh tanah bergerimang debu,

Sedang hatinya penuh cinta Ilahi

Ia berkata, ‘Tuhanku, Tuhanku, Ibadah kepada-Mu meringankan deritaku.’”

Setelah mendengar syair itu Rabi’ah segera beranjak pulang dan ingin segera memejamkan matanya. Akan tetapi, ada kejadian yang mengejutkannya tidurnya diselimuti cahaya yang menyenandungkan kalimat yang pernah didengarnya, dan memanggil Rabi’ah, “Hai Rabi’ah, belum datangkah saatnya engkau kembali kepada Tuhanmu? Ia telah memilihmu, menghadaplah kepada-Nya.”

Peristiwa-peristiwa tersebut yang akhirnya mengantarkan Rabi’ah Al-‘Adawiyah kepada kehidupan yang penuh dengan kekhuyukan ibadah kepada Allah Swt dalam sepanjang hidupnya. []

Sumber: 165 Nafas-nafas cinta, Kidung Cinta Rabiah Al Adawiyah/Penulis: Rudyiyanto/ Penerbit: Srigunting,2010

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline