Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Bukti Manusia Tidak Pernah Puas

0

Sosok Luqmanul Hakim adalah sosok yang penuh keteladanan dalam mendidik anak. Banyak sekali nasihat yang disampaikannya untuk sang buah hati tercinta yang menanamkan aqidah dan akhlak, yang disampaikan dengan penuh kasih sayang.

Karena keteladanan dalam mendidik anak, namanya diabadikan Allah Subhanaahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an menjadi nama surat ke-31, yaitu Luqman. Dalam surat Luqman ini, berisi ayat-ayat yang mengandung hikmah bagi mereka yang berbuat kebaikan. Allah berfirman,

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ. هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ

“Inilah ayat-ayat yang mengandung hikmah, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Luqman [31]: 2-3)

Nama lengkap Luqman adalah Luqman bin ‘Unqa bin Sidran atau Luqman bin Tsaran. Banyak riwayat berbeda yang menjelaskan tentang Luqman dan asal-usulnya. Namun, yang pasti ia adalah seorang laki-laki shaleh, ahli ibadah, dan memiliki pengetahuan dan hikmah yang luas. la bukan se-orang nabi, hanya seorang yang ahli ibadah. Hikmah keteladanan yang digambarkan dari sosok Luqman dan anaknya, salah satunya adalah ketika Luqmanul Hakim mengajak anaknya berjalan ke pasar mengendarai keledai. Luqmanul Hakim duduk menunggangi keledai, sedangkan anaknya berjalan kaki menuntun keledai tersebut.

Pada saat mereka lewat di suatu tempat, orang-orang berkata, “Lihatlah orang tua itu, benar-benar tidak memiliki rasa kasih sayang kepada anaknya. la tunggangi keledai itu, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki menuntun keledai.”

Mendengar hal itu, Luqman pun turun dari keledainya dan berkata, “Wahai anakku apakah kau dengar apa yang orang perbincangkan?”

BACA JUGA: Nama Luqman yang Terdapat dalam Al-Qur’an, Ternyata Ini Sosoknya!

“Iya Ayah, aku mendengarnya,” jawab sang anak sambil menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, naiklah kau ke atas keledai dan ayah yang akin menuntun keledainya,” kata Luqman sambil mengangkat anaknya untuk naik ke atas keledai. Mereka lantas meneruskan perjalanannya.

Sesampainya mereka di suatu tempat, orang-orang pun berbisik-bisik dan berkata, “Lihatlah anak yang menunggangi keledai itu, ia bukan anak yang berbakti. Ayahnya disuruh untuk menuntun keledai itu dan ia dengan enaknya duduk di atas keledai. Sungguh hal yang tidak pantas dilakukan seorang anak.”

“Apa kau dengar apa yang mereka katakan, Nak?” tanya Luqman kepada anaknya.

“Iya Ayah, aku mendengarnya,” jawab sang anak sambil menganggukkan kepalanya.

“Sekarang turunlah kau dari keledai dan kita tuntun bersama-sama keledai ini,” kata Luqman sambil menurunkan anaknya dari keledai kemudian mereka berjalan bersama sambil menuntun keledai.

Ketika mereka melewati sekelompok orang, orang-orang itu pun saling berbisik, “Lihatlah kedua orang itu, alangkah bodohnya mereka. Mereka membawa keledai namun tidak ditunggangi. Keledai itu untuk membawa barang-barang dan untuk ditunggangi bukan untuk dituntun seperti kambing”

“Kau dengar apa yang mereka katakan?” tanya Luqman kepada anaknya, anaknya pun menganggukkan kepalanya.

“Jika demikian, ayo kita naiki keledai ini bersama-sama,” kata Luqman kepada anaknya. Mereka pun menunggangi keledai tersebut bersamaan.

Namun, ketika melewati sekelompok orang, orang-orang pun berkata, “Keledai yang malang. Sungguh kasihan keledai itu ditunggangi dua orang sekaligus sehingga seperti kepayahan.”

“Apa kau dengar apa yang mereka katakan?” tanya Luqman kembali kepada anaknya.

“la Ayah, aku mendengarnya.”

BACA JUGA: Suara Dengkingan Keledai Setiap Sore pada Sebuah Kuburan

“Jika demikian, marilah kita pikul keledai ini bersama-sama.” kata Luaman kepada anaknya.

Susah payah mereka mengikat keledai tersebut dan memikulnya. Namun apa yang orang-orang katakan ketika Luqman dan anaknya melewati suatu kelompok orang, mereka ditertawakan karena dianggap telah gila.

“Apa kau dengar apa yang mereka katakan, Anakku?” tanya Luqman kepada anaknya.

“lya Ayah, aku mendengarnya,” jawab anak Luqman.

“Anakku, begitulah sifat manusia. Apa yang kita lakukan selalu menjadi perhatian dan pandangan orang lain. Baik itu perbuatan yang benar, apalagi perbuatan yang salah. Mereka akan tetap memperhatikan dan berpendapat. Oleh karena itu, berbuatlah seperti yang telah dibenarkan dalam ajaran Allah dan yakinlah atas jalan kebenaran yang kamu ambil. Jika tidak demikian, kamu akan terombang-ambing dalam keraguan.”

Begitulah Luqman memberikan pengajaran kepada anaknya dengan contoh nyata yang terjadi di masyarakat secara Iangsung. Dalam kisah tersebut, Luqman menanamkan ketauhidan kepada anaknya, bahwa hukum Allah subhanaahu wa ta’ala pasti benar adanya. []

Sumber: Si Penyebar Fitnah, 38 Pelajaran hidup dari orang-orang Pilihan/ Penulis: Dewi Astuti , dkk./ Penerbit: Pt. Gramedia

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline