Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Bukti Kecintaan dari Umair bin Wahab untuk Sang Sahabat

0

Telah datang suatu berita besar yaitu berita tentang seorang Jagoan Quraisy dengan hidayah Allah telah merubahnya menjadi seorang pembela berani mati di antara pembela-pembela Islam lainnya. Ia yang selalu siap sedia di samping Rasul pada setiap peperangan dan pertempuran, dan yang kesetiaan serta baktinya kepada Agama Allah tetap teguh tidak berubah setelah Rasul wafat. Ialah Umair bin Wahab.

Di hari pembebasan kota Mekah, Umeir tak hendak me­lupakan shahabat dan karibnya Shafwan bin ‘Umaiyah, ia pergi untuk menyampaikan kepadanya kebaikan Islam dan meng­ajaknya untuk memeluknya, setelah ternyata tak ada lagi kesangsian terhadap kebenaran Rasul dan risalat. Tapi Shafwan telah bersiap-siap dengan kendaraannya menuju Jeddah untuk berlayar ke Yaman.

Umeir sangat kecewa dan merasa kasihan melihat sikap Shafwan, maka dibulatkannya tekad hendak menyelamatkan shahabatnya itu dari jalan kesesatan. Ia pun segera pergi kepada Rasulullah saw., lalu berkata kepadanya, “Ya Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan itu adalah penghulu kaumnya, ia hendak pergi melarikan diri dengan menerjuni laut karena takut daripada anda. Maka mohon anda beri ia keamanan dan perlindungan, semoga Allah melimpahkan karunia-Nya kepada anda!”

Nabi bersabda, “Dia aman!”

“Ya Rasul Allah, berilah aku suatu tanda sebagai bukti keamanan dari anda!” Maka Rasulullah memberikan sorbannya yang dipakainya sewaktu memasuki kota Mekah.

Umeir pun pergilah dengan sorban itu mendapatkan Shaf­wan yang ketika itu sudah hendak berlayar. Serunya kepada Shafwan, “Ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu! Ingatlah kepada Allah, janganlah engkau silap dan berputus asa! Inilah tanda keamanan dari Rasulullah yang sengaja aku bawa untukmu!”

Ujar Shafwan, “Nyahlah engkau tak perlu bercakap denganku!”

“Benar Shafwan, jaminanmu ayah dan ibuku, sesungguhnya Rasulullah saw itu adalah manusia yang paling utama, paling banyak kebajikannya, paling penyantun dan paling baik. Kemuliaannya kemuliaanmu, martabatnya marta­batmu!”

Related Posts

Kata Shafwan, “Aku takut terhadap diriku…”

Kata Umeir, “Beliau orang yang paling penyantun dan paling mulia, lebih dari apa yang engkau duga!”

Maka akhirnya Shafwan bersedia ikut kembali. Mereka berdiri di muka Rasulullah saw, lalu kata Shafwan, “Kawan ini mengatakan bahwa anda telah memberiku jaminan keamanan!”

Jawab Nabi, “Betul!”

Kata Shafwan lagi, “Berilah aku kesempatan memilih selama dua bulan!”

Rasul pun menjawab, “Engkau diberi kebebasan memilih selama empat bulan!”

Kemudian Shafwan pun Islamlah. Dan tak ter­kirakan bahagianya Umeir dengan Islamnya Shafwan shahabatnya itu. Umeir bin Wahab pun melanjutkan perjalanan hidupnya yang penuh berkah menuju Allah Ta’ala mengikuti jejak Rasul yang diutus Allah kepada ummat manusia untuk melepaskan mereka dari kesesatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang. []

Sumber: Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah/ Penulis : Khalid Muhammad Khalid/ Penerbit : CV Diponegoro Bandung,2006

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline