Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Besarnya Keimanan Ali Bin Abi Thalib Terkadang Membuat Ia Tidur Setengah Mati

0

Ali merupakan orang yang paling tekun dan banyak beribadah. la pun paling sering berpuasa. Kepadanya banyak orang yang minta petunjuk tentang cara-cara yang terbaik dalam menunaikan sembahyang malam, berzikir dan beribadah lainnya. Bila sedang menghadap ke hadhirat Allah ‘Azaa wa Jalla, Ali sedemikian khusyu’ dan khidmatnya, tak ada sesuatu yang dapat menggoyahkan kebulatan fikiran dan perasaannya.

Dalam situasi sedang berkobarnya pertempuran di Shiffin, habis menunaikan shalat, Ali tekun berwirid, tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk orang yang sedang mengadu tenaga dan senjata. Di malam yang sangat mengerikan itu, Ali bersembah sujud di hadapan Allah Swt, padahal tidak sedikit anak panah yang beterbangan di kanan-kirinya dan ada pula yang berjatuhan di depannya.

la tidak gentar sedikit pun dan tidak bangun meninggalkan tempat ibadah sebelum menyelesaikannya dengan tuntas. Demikian banyaknya ia bersembah sujud setiap hari, siang dan malam, sampai kulit keningnya menebal dan keras kehitam-hitaman.

la selalu bermunajat kepada Allah dan mengagungkan-Nya, menyatakan ketundukan dan penyerahan hidup-matinya kepada Allah. Dengan patuh ia melaksanakan semua perintah dan menghindari larangan-Nya. Semuanya itu dilakukan dengan sepenuh hati, jujur dan ikhlas. Hatinya, perbuatannya dan ucapannya sedemikian utuhnya menjadi satu perpaduan yang tak kenal garis pemisah.

Ali bin Al Husein yang merupakan cucu Ali pemah ditanya orang, “Bagaimana perbandingan antara ibadah yang anda lakukan dengan ibadah yang dilakukan datuk anda?”

Ali bin Al Husein yang terkenal sebagai orang shaleh dan tekun beribadah itu menjawab, “Perbandingan antara ibadahku dengan ibadah datukku, sama seperti perbandingan antara ibadah datukku dengan ibadah Rasulallah.”

Tentang ibadah Ali, ‘Urwah bin Zubair mengernukakan sebuah riwayat yang berasal dari Abu Darda, “Pada suatu hari aku mendapatkan Ali bin Abi Thalib berada di halaman rumah seorang yang penuh dengan pepohonan. la mengasingkan diri dari orang lain dan bersembunyi di batang kurma yang sangat lebat, “Aku mencaricari dia sampai agak jauh. Kukira pasti ia sudah berada di rumahnya lagi. Tiba-tiba aku mendengar suara ratap sedih, ‘Ya Allah. Tuhanku. betapa banyaknya dosa yang karena kebijaksanaan-Mu tidak Engkau balas dengan murka-Mu. Betapa pula banyaknya dosa yang karena kemurahan-Mu tidak Engkau gugat.

“Ya Allah, Tuhanku. Bila sepanjang umur aku berbuat dosa kepada-Mu dan sangat banyak dosaku tercatat dalam shuhuf. maka aku tidak mengharap sesuatu selain pengampunan-Mu dan aku tidak mendambakan sesuatu kecuali keridhnan-Mu’…”

‘Suara ratap sedih itu sangat menarik perhatianku. Jejaknya kutelusuri. Ternyata suara itu adalah suara Ali bin Abi Thalib. Aku lalu bersembunyi dan menunduk agar jangan sampai diketahui olehnya. Kulihat ia sedang beruku’ beberapa kali di tengah kegelapan malam. Kemudian ia berdoa sambil menangis dan mengeluh sedih ke hadhirat Allah Swt.

Related Posts

Kata Abu Darda lebih lanjut, “la lalu tenggelarn di dalam tangis. Makin lama suaranya tidak kudengar lagi. Kupikir mungkin ia tertidur nyenyak karena terlalu banyak bergadang. Dini hari ia hendak kubangunkan untuk shalat subuh. la kudekati, ternyata ia tergeletak seperti sebatang kayu. la kugeralc-gerakkan dan kubalik-balik. tetapi sama sekali tidak berkutik. Kuduga ia wafat. Lalu aku mengucap Innaa Iillahi wa innaa ilaihi raajruun. Aku cepat-cepat lari ke rumahnya untuk memberi tahu keluarganya.”

Setelah mendengar keteranganku, Siti Fatimah hanya bertanya, “Abu Darda, dia kenapa dan bagaimana keadaannya?”

Sesudah kujelaskan keadaan Ali, Sitti Fatimah memberitahu kepadaku, “Dia sedang pingsan. karena sangat takut kepada Allah!”

Keluarganya lantas mendatangi Ali dengan membawa air. Kemudian mengusap-usapkan pada wajahnya. Tak lama setelah itu ia siuman dan sadarkan diri kembali. Lalu ia memandang kepadaku dan aku menangis.

la bertanya, “Abu Darda, mengapa engkau menangis?”

“Karena melihat sesuatu yang menimpa dirimu,” jawabku.

“Hai Abu Darda, bagaimanakah kiranya kalau engkau melihat aku dipanggil untuk menghadapi perhitungan (hisab). melihat sendiri orang-orang yang berbuat dosa sedang menderita siksa adzab. melihat aku dikelilingi sejumlah Malaikat yang bengis dan keras di hadapan Allah Maha Perkasa. sedang para pencintaku sudah tiada lagi dan para ahli dunia pun sudah meninggalkan diriku. Seandainya engkau melihat itu semua. engkau pasti akan lebih mengasihi diriku di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu betapa pun kecilnya,” ujar Ali.

“Aku tidak pemah melihat hal itu terjadi pada sahabat Rasulullah yang lain….” sahut Abu Darda. []

Sumber: Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a./ Penulis: H.M.H. Al Hamid Al Husaini/ Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam,1981

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline