Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Benarkah Rasulullah Hanya Menikahi Janda Tua yang Tak Berdaya?

0

Pernahkah sahabat JS (Jalan Sirah) disini mendengar pernyataan dari berbagai orang yang menyatakan, ‘Wanita yang dinikahi Rasul itu wanita tua yang sudah tak berdaya!’ atau pernyataan, ‘Boleh poligami asalkan wanita yang dinikahi adalah wanita tua sebagaimana Rasulullah!’ Atau pernyataan, ‘Rasulullah itu berpoligami bukan dengan para gadis muda tapi wanita tua!’ atau pernyataan-pernyataan lain yang menyudutkan bahwa Rasulullah hanya menikahi janda tua.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, adalah satu-satunya orang yang diperbolehkan memiliki istri lebih dari empat di antara sahabatnya juga para umatnya.

Beliau pertama kali menikah di usia 25 tahun dengan Khadijah binti Khuwailid. Khadijah pada waktu itu berusia 40 tahun. Setelah banyak pernyataan bahwa Rasulullah hanya menikahi wanita tua renta yang butuh bantuan. Namun, benarkah pernyataan tersebut sebagaimana yang berkembang di tengah-tengah masyarakat? Sebenarnya berapa usia para istri Rasulullah ketika dinikahi oleh Rasulullah? Benarkah usia mereka adalah usia-usia tua renta?

1. Seperti yang telah disebutkan di atas. Khadijah binti Khuwailid, dinikahi oleh Rasulullah pada usia 40 tahun. Sebelumnya Khadijah pernah menikah dua kali, namun suami pertama dan keduanya wafat. Dari Khadijah lah lahir putra-putri Rasulullah, yaitu : Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah az-zahra.

2. Saudah binti Zam’ah, dinikahi oleh Rasulullah ketika usianya sekitar 55 tahun. Sebelumnya ia dinikahi oleh Sakran bin Amr

3. Aisyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, dinikahi ketika usianya 6 tahun dan digauli ketika usia 9 tahun. Aisyah merupakan istri yang paling muda.

4. Hafshah binti ‘Umar bin Khaththab, ia dinikahi ketika usia 19 tahun. Sebelumnya ia dinikahi oleh Khumais bin Hudzaifah.

5. Zainab binti Khuzaimah, dinikahi ketika usianya sekitar 30 tahun. Sebelumnya ia dinikahi oleh Abdullah bin Jahsy.

6. Ummu Salamah, ia dinikahi ketika usianya sekitar 29 tahun. sebelumnya ia dinikahi oleh Abu Salamah.

7. Zainab binti Jahsy, ia dinikahi ketika usianya sekitar 35 tahun. sebelumnya ia dinikahi oleh Zaid bin Kharitsah, namun Zaid menceraikannya, lalu Rasulullah menikahinya.

8. Juwairiyyah binti Al-Harits, ia dinikahi ketika usianya sekitar 20 tahun. Sebelumnya ia adalah tawanan yang berasal dari Bani Musthaliq, ia dimiliki oleh Tsabit bin Qais. Kemudian Tsabit mengadakan perjanjian untuk memerdekakannya dengan tebusan. Kemudian Rasulullah yang memenuhi seluruh tebusan kemerdekaannya lalu menikahinya pada tahun ke-6 hijrah.

9. Ummu Habibah binti Abu Sufyan, ia dinikahi sekitar usia 40 tahun. Ia sebelumnya dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy tetapi Ubaidillah murtad karena masuk agama nasrani dan meninggal. Rasulullah menikahinya pada bulan Muharram tahun ke-7 hijrah.

10. Shafiyyah binti Huyay, ia dinikahi ketika usianya sekitar 17 tahun. Sebelumnya ia menjadi tawanan perang Khaibar, Rasulullah memilihnya untuk dirinya, kemudian beliau memerdekakannya dan menikahinya setelah penaklukan Khaibar tahun ke-7 hijriyah.

Related Posts

Suami yang Lebih Baik bagi Ummu Salamah ternyata…

11. Maimunah binti Al-Harits. Ia dinikahi ketika usainya sekitar 26 tahun. Ia dinikahi Rasulullah pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-7 hijrah,

12. Mariyah Qibtiyah, (tidak diketahui usia Mariah ketika menikah dengan Rasulullah). Namun, Rasulullah menikah dengan Mariah ketika usainya 60 tahun. dan dari Mariah lahir putra Rasulullah yang bernama Ibrahim. Ibrahim wafat ketika usai 18 bulan.

Ini sudah sangat jelas sekali bahwa istri-istri Rasulullah bukan wanita tua renta yang tak berdaya bahkan wanita kebanyakan wanita muda yang dinikahi oleh beliau

Perlu diketahui bersama, bahwa Rasulullah menikahi istri-istrinya tidak asal-asalan. Ada alasan dibalik itu semua dan alasannya bukan karena mereka tua dan tak berdaya, persfektif ini yang selama ini salah di masyarakat. Tapi lebih tepatnya adalah demi keberlangsungan Islam. Sebagaimana penjelasan di bawah ini.

Rasulullah berpoligami bukan tanpa tujuan. Poligami yang dilakukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dikarenakan tuntutan dakwah. Pada saat itu usia Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam semakin tua sementara tugasnya bertambah berat didalam menyampaikan risalahnya sehingga beliau membutuhkan orang-orang yang paling dekat dengannya untuk menjadi perantara dalam menyampaikan hukum-hukum syariat yang berkenaan dengan wanita muslimah.

Tujuan poligaminya Rasulullah dimaksudkan untuk memperluas dan memperkuat jalinan hubungan kekeluargaan dalam upaya penyebaran dakwahnya.

Perkawinannya dengan Aisyah binti Abu Bakar r.a. Aisyah merupakan wanita paling cerdas di muka bumi ini, ia meriwayatkan hadits lebih dari 2000 hadits, sehingga ini hikmah dibalik pernikahannya Aisyah dengan Rasulullah. Aisyah banyak meriwayatkan hadits tentang kehidupan rumah tangga Rasulullah serta ibadahnya Rasulullah. Sehingga ilmu dari Aisyah ini bermanfaat hingga saat ini.

Perkawinannya dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Rasulullah menikahi putri tokoh tertinggi Quraisy dan musuh terbesar Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ini untuk melunakkan hati sang musuh.

Perkawinannya dengan Maimunah, bibi panglima legendaris, Khalid bin Walid, dimaksudkan untuk melunakkan Khalid ke pihaknya.

Begitu pula perkawinannya dengan Shafiyah binti Huyay. Awalnya ia hendak dinikahi salah seorang Raja Yahudi, kiranya tidak tepat melainkan untuk beliau.

Begitu pula ketika beliau kawin dengan Zainab binti Jahasy, suatu hikmah Ilahiah untuk membatalkan adat adopsi atau mengangkat anak gaya Jahiliah yang mengharamkan ayah angkat mengawini bekas istri anak angkatnya:

“…Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (Menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia, supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk mengawini istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya pada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (AI-Ahzab: 37). []

Sumber:-Rumah Cinta Rasulullah/ Penulis: Ahman Rofi’ Usmani/ Penerbit: Mizan/ 2007
-Muhammad di Mata Cendekiawan Barat/ Penulis: Khalil Yasien/ Penerbit: Gema Insani/ Maret 1989

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline