Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Jika Aku Masih Hidup Saat Itu, Aku akan Membelamu Segenap Jiwa Ragaku

0

Tatkala usia Nabi Muhammad SAW menginjak 40 tahun, tanda-tanda kenabian telah semakin nampak pada dirinya. Di antaranya adanya sebuah batu di Makkah yang mengucapkan salam kepada beliau, beliau tidak bermimpi kecuali sangat jelas sejelas fajar subuh yang menyingsing. Hal ini berlangsung selama enam bulan, sehingga mimpi ini merupakan bagian dari 46 tanda kenabian.

Ketika uzlah beliau SAW memasuki tahun ketiga, Allah SAW memuliakan beliau dengan mengangkatnya menjadi nabi. Dan mengirim Malaikat Jibril turun membawa ayat Al-Quran.

Aisyah RA. meriwayatkan, “Wahyu yang mula pertama dialami oleh Rasulullah SAW adalah berupa ar-ru’ya ash-shalihah (mimpi yang benar) dalam tidur. Beliau tidak bermimpi melainkan sangat jelas, sejelas fajar subuh yang menyingsing, kemudian beliau mulai suka menyendiri dan beliau melakukannya di Gua Hira’, di mana beliau beribadah di dalamnya selama beberapa malam.

Selanjutnya kembali ke keluarganya dan mengambil perbekalan untuk itu, kemudia kembali lagi kepada istrinya, Khadijah, dan mengambil perbekalan yang sama. Hingga akhirnya pada suatu hari seorang malaikat datang menghamprinya sembari berkata, ‘Bacalah!’ lalu aku menjawab ‘Aku tidak bisa membaca’ Beliau SAW bertutur lagi ‘Kemudian dia memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan tenaga kemudian melepaskanku seraya berkata ‘Bacalah!’ aku tetap menjawab ‘Aku tidak bisa membaca!’ kemudian dia melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya, sembari berkata:

‘Bacalah dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Rabbmu yang paling pemurah. Yang mengajar manusia melalu perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.’ (Al-Alaq: 1-5).

Setelah itu Rasulullah SAW pulang dan merekam bacaan itu dengan kondisi gemetar, lantas menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid, sembari berucap, ‘selimuti aku! Selimuti aku!’ Beliau SAW pun diselimuti hingga rasa takutnya hilang. Beliau bertanya kepada Khadijah, ‘Ada apa denganku ini?’ Lantas beliau menuturkan kisahnya dan berkata, ‘Aku amat khawatir terhadap diriku!’ Khadijah berkata, ‘Sekali-kali tidak demikian! Demi Allah! Dia tidak akan menghinakanmu selamanya! Sunggguh engkau adalah penyambung tali kerabat, pemikul beban orang lain yang menerima kesusahan, pemberi orang yang papa, penjamu tamu serta pendukung setiap upaya penegakkan kebenaran.’

Kemudian Khadijah bersama beliau SAW berangkat menemui Waroqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, sepupu Khadijah. dia adalah seorang penganut agama Nasrani pada masa jahiliyah dan mampu menukil beberapa tulisan dari Injil dengan tulisan Ibrani sebanyak ia mampu ditulisnya-atas kehendak Allah SWT. dia yang seorang tua renta dan buta. Maka berkatalah Khadijah RA kepadanya,’ Wahai sepepuku! Dengarkanlah cerita dari keponakanmu ini!’

Waraqah berkata, ‘Wahai sepupuku! Apa yang engkau lihat?’

Lalu Rasulullah SAW membeberkan apa yang dialaminya. Waraqah berkata kepadanya, ‘Itu adalah makhluk kepercayaan Allah, Jibril yang telah Allah utus kepada Nabi Musa. Andai saja aku masih bugar dan muda ketika itu! Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!’

Rasulullah SAW bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusirku?’

Dia menjawab, ‘Ya, tak seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa ini melainkan akan dimusuhi, dan jika aku masih hidup pada saat itu, niscaya aku akan membelamu dengan segenap jiwa ragaku.’

Kemudian tak beberpa lama dari itu, Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus. []

Sumber: Perjalanan hiddup rasul yang agung/ penulis: Syaikh Safiyyurahman Mubarakfurri/ Penerbit: Darul Haq.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline