Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Beginilah Kemarahan Rasulullah

0

Rasulullah¬†Shalallahu ‘alaihi wasallam tetap bersabar bila ada yang menyakitinya. Akan tetapi, bila berhadapan dengan orang yang menodai kesucian agama atau bahkan baru mendekati, sesungguhnya kakinya tidak akan bergeser sedikit pun hanya karena gentar menghadapi.

Ketika semua orang telah berlari menyelamatkan diri, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak surut keberaniannya sedikit pun. Bila kehormatan agama sudah disinggung, apalagi diinjak, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling besar amarahnya.

Ia bersabda, “Aku diperintahhan supaya memerangi manusia hingga mereha bersahsi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendlirihan shalat, dan membayar zakat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menyangkut kesucian risalah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam segera bertindak tegas sesuai dengan¬† tingkatan bahayanya. Ketika Umar ibnul Khattab datang dengan membawa selembar kitab Taurat, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam memerah wajahnya. Ia sangat marah dan ia tidak menyembunyikan kemarahannya.

Abu Bakar yang saat itu ada di dekat Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam sampai berkata dengan nada tinggi, “Semoga wanita yang kehilangan anaknya menjanda! Apakah engkau tidak melihat wajah Rasulullah saw?”

Abdullah bin Zaid yang ketika itu juga berada di dekat NabShalallahu ‘alaihi wasallam, juga memberi teguran yang sangat keras kepada Umar, “Apakah Allah telah menghilangkan akalmu? Tidakkah engkau melihat wajah Rasulullah saw.?”

Umar ibnul Khattab kemudian berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari kemarahan Allah dan Rasul-Nya. Aku ridha Allahsebagai Tuhan, Islam sebagaiagama, dan Muhammad sebagai nabi.”

Related Posts

Surat Nabi kepada Pemimpin Bahrain

“Demi Zat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,” kata Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, “seandainya Musa terlihat oleh kalian kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkanku, sungguh kalian tersesat dari jalan yang lurus. Jika Musa masih hidup dan mengetahui kenabianku, ia pasti mengikutiku.”

Peristiwa Umar ini saya ceritakan ke hadapan Anda sesuai dengan hadits riwayat ad-Darimi dari Jabir r.a. bersama hadits penguatnya yang mengisahkan ungkapan Abdullah bin Zaid dari Abu Darda.

Rasulullah saw. tidak pernah mau membiarIcan kehormatan agama diruntuhkan, meski baru berupa benih yang belum ditanam. Ia murka sehingga memerah wajahnya dan berguncang rambutnya, padahal Umar ibnul Khaththab adalah salah satu sahabat yang paling dapat diandalkan imannya.

Kemarahan itu juga terjadi ketika Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menjumpai sahabat yang sibuk berdebat tentang takdir. Ibnu Majah meriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya yang berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui sahabat-sahabat beliau yang sedang bersilang pendapat tentang takdir. Sepertinya, biji delima pecah di wajahnya karena marah.

Ia berkata, Apakah ini yang diperintahlam kepada kalian? Apakah karena ini kalian diciptalam? Kalian mentukul sebagian Al-Qur’an dengan sebagian lainnya. Karena inilah, umat-umat sebelum kalian binasa.” []

Baca juga: Abu Hurairah: Rasulullah Membagi-bagikan Harta Warisan

Sumber: Agar Cinta Bersemi Indah/Penulis: M. Fauzil Adhim/Penerbit: Gema press,2002

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline