Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Imbalan Puasa Orang Munafik

0

Suatu hari, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bertemu dengan sejumlah sahabat beliau di Masjid Nabawi, Madinah, untuk membahas pelbagai hal. Kesempatan itu digunakan oleh salah seorang di antara mereka untuk bertanya, “Wahai Rasul! Apakah kita, pada hari kiamat kelak, bisa melihat Tuhan kita?”

“Apakah kalian tidak merasa silau melihat matahari di tengah siang hari tanpa awan?” beliau balik bertanya.

“Tidak, wahai Rasul.” jawab para sahabat yang hadir di situ.

“Apakah kalian tidak merasa silau melihat bulan purnama tanpa awan?’ tanya beliau selanjutnya.

“Tidak, wahai Rasul!” jawab mereka serempak.

“Demi Allah yang menguasai diriku,” ucap beliau, “Kalian kelak tidak akan merasa silau melihat Allah Swt, seperti ketika melihat matahari atau bulan purnama.”

Sejenak Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam berhenti berbicara. Beberapa saat kemudian, beliau melanjutkan ucapannya, “Kelak, Allah Swt akan menemui seorang kafir, lalu Allah bertanya kepadanya, ‘Hai Fulan! Tidakkah ketika di dunia, Aku telah memuliakanmu; menjadikanmu sebagai orang yang terhormat, menundukkan kuda dan unta untukmu, juga telah Kuberikan kesempatan kepadamu untuk menjadi pemimpin dan hidup dalam kesenangan?

`Memang benar, wahai Tuhan.’ jawab orang itu.

‘Apakah ketika di dunia engkau percaya bahwa engkau akan menemui-Ku? tanya Allah selanjutnya.

`Tidak.’ jawab orang itu.

`Kini, Kubiarkan engkau tanpa rahmat-Ku sebagaimana engkau telah melupakan-Ku ketika engkau hidup di dunia,’ firman Allah kepada orang itu.”

Kemudian, Allah menemui seorang kafir lain, lalu bertanya kepadanya, `Hai Fulan! Tidakkah ketika di dunia, Aku telah memuliakanmu, memberimu jodoh, menundukkan kuda dan unta untukmu, juga telah Kuberikan kesempatan.’ kepadamu untuk menjadi pemimpin dan hidup dalam kesenangan?

`Memang benar, wahai Tuhan.’ jawab orang itu.

‘Apakah ketika di duniaengkau percaya bahwa engkau akan menemui-Ku? tanya Allah selanjutnya.

`Tidak.’ jawab orang itu.

`Kini, Kubiarkan engkau tanpa rahmat-Ku sebagaimana engkau telah melupakan-Ku ketika engkau hidup di dunia,’ firman Allah kepada orang itu.”

“Setelah itu, Allah menemui seorang munafik dan mengajukan pertanyaan seperti apa yang ditanyakan di muka. Orang munafik itu menjawab, `Wahai Tuhan! Aku dulu di dunia beriman kepada-Mu, kepada kitab-Mu, kepada para rasul-Mu, dan aku juga melaksanakan shalat, puasa, zakat, serta memuji-Mu sebaik mungkin!’

‘Tetaplah engkau di sini! Kami telah mendatangkan saksi Kami kemari!’ perintah Allah.

‘Siapa yang akan menjadi saksiku?’ gumam orang munafik itu.

Allah kemudian mengunci mulut orang munafik itu, kemudian memerintahkan pada paha, daging, dan tulang orang munafik itu, ‘Bicaralah!’

Maka, paha, daging , dan tulang orang munafikitu menuturkan perbuatannya sehingga dia tidak bisa berkutik. Itulah orang munafik yang dimurkai Allah!” []

Sumber: Teladan Indah Rasulullah dalam Ibadah: 1000 Kisah Penuntun Shalat, Puasa/ Penulis: Ahmad Rofia Usmani/ Penerbit: Mizan

Leave A Reply

Your email address will not be published.

you're currently offline