Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Penyesalan Tsalabah yang Terbawa Hingga Akhir Hayat

0

Seorang pemuda dari kaum Anshar yang bernama Tsa’labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan cekatan. Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya dia melewati rumah salah seorang dari Anshar, maka terlihat oleh dirinya seorang wanita Anshar yang sedang mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyangkut perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur.

Dia menuju ke sebuah gunung yg berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya. Selama empat puluh hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kehilangan Tsalabah. Lalu Jibril alaihissalam turun kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.'”

Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Umar dan Salman! Pergilah cari Tsa’laba bin Aburrahman, lalu bawa kemari.”

Keduanya pun lalu pergi menyusuri perbukitan Madinah. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah.

Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu seorang pemuda di antara perbukitan ini?”

Penggembala itu menjawab, “Jangan-jangan yg engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?”

Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam? tanya Umar.

Dzaufafah menjawab, “Karena, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan!”

“Ya, dialah yang kami maksud,” tegas Umar.

Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama. Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Wahai, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan!”

Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya. Tsa’labah berkata, “Wahai Umar, Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?”

Aku tidak tahu, yg jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu.

Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan shalat”

Ketika mereka menemukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tengah melakukan shalat, Umar dan Salman segera mengisi shaf. Tatkala Tsa’labah mendengar bacaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, dia tersungkur pingsan.

Setelah Nabi mengucapkan salam, beliau bersabda, “Wahai Umar, Salman, apakah yang telah kau lakukan Tsa’labah?”

Keduanya menjawab, “Ini dia, wahai Rasulullah!”

Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa’labah yang membuatnya tersadar.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Mengapa engkau menghilang dariku?”

Related Posts

Mengorbankan Diri karena Mencari Keridhaan Allah

Tsa’labah menjawab, “Dosaku, ya Rasulullah!”

Beliau mengatakan, “Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yg dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?”

“Benar, wahai Rasulullah.”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka.” (QS al-Baqarah: 201)

Tsa’labah berkata, “Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar.”

Beliau bersabda,”Akan tetapi kalamullah lebih besar.”

Kemudian Rasulullah menyusul agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama delapan hari. Mendengar Tsa’labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa’labah? Dia sekarang sedang sakit keras.”

Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa’labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa’labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau.”

Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?” tanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

“Karena aku penuh dengan dosa,” Jawabnya

Beliau bertanya lagi, “Bagaimana yang engkau rasakan?”

“Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku,” Jawab Tsa’labah.

Beliau bertanya, “Apa yang kau inginkan?”

“Ampunan Tuhanku,” Jawabnya.

Maka turunlah Jibril as. dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, `Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula.’

Maka segera Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan hal itu kepadanya. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa’labah dan langsung ia meninggal. Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar Tsa’labah segera dimandikan dan dikafani. Ketika telah selesai menyalatkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat.”

Beliau bersabda, “Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Karena, banyaknya malaikat yang turut melayat Tsa’labah.” []

Sumber: Kisah Teladan Muslim/ Az-Zikr Studio

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline