Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Belajar Mengiklaskan Cinta dari Salman Al Farisi

1

Salman Al-Farisi adalah seorang pemuda Persia. Salman al-Farisi tak lain adalah mantan budak di Isfahan, salah satu daerah di Persia. Salman al-Farisi adalah sahabat Rasulullah yang spesial. Ia terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah pada saat kaum kafir Quraisy Makkah bersama pasukan sekutunya menyerbu Rasulullah dan juga kaum muslimin dalam perang Khandaq.

Untuk kisah cintanya, Salman al-Farisi merasakan jatuh cinta ketika Rasulullah dan kaum muslimin hijrah menuju kota Madinah. Maka di kota inilah Salman al-Farisi berniat untuk menggenapkan separuh agamanya dengan menikahi seorang wanita Sholihah. Saat itu diam-diam Salman al-Farisi menaruh perasaan cinta kepada seorang wanita muslimah Madinah nan sholihah yang disebut kalangan Anshar. Maka dia pun memantapkan niatnya untuk melamar wanita pujaan hatinya.

Akhirnya Salman al-Farisi mendatangi sahabatnya yaitu Abu Darda. Ia bermaksud meminta bantuan dari sahabatnya, Abu Darda untuk menemaninya saat mengkhitbah wanita impiannya. Setelah mendengar cerita sahabatnya tersebut, Abu Darda pun begitu girang. Ia pun memeluk Salman al-Farisi dan bersedia membantu dan juga mendukung sahabatnya itu. Tak ada perasaan ragu bahkan menolak dalam diri seorang Abu Darda. Dan inilah kesempatan Abu Darda untuk membantu saudara seimannya.

Salman akhirnya mendatangi rumah sang gadis pujaannya dengan ditemani oleh Abu Darda.

Keduanya diterima dengan sangat baik oleh tuan rumah. “Saya adalah Abu Darda dan ini adalah saudara saya Salman al-Farisi dari Persia. Allah telah memuliakan Salman dengan Islam dengan jihad dan amalannya. Dia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah menganggapnya sebagai keluarganya,” ujar Abu Darda mengawali pertemuannya dengan orang tua seorang gadis yang akan dipinangnya.

“Saya datang untuk meminang putri anda, untuk saudara saya ini Salman al-Farisi,” lanjut Abu Darda menjelaskan maksud kedatangan mereka.

Mendengarnya, tuan rumah tersebut merasa terhormat, “Alhamdulillah, menjadi kehormatan bagi kami didatangi oleh dua shahabat Rasulullah yang mulia. Sebuah kehormatan juga bagi kami jika memiliki menantu dari kalangan sahabat,” ujar ayah si wanita.

Meski yang datang adalah sahabat Rasulullah, sang ayah tetap meminta persetujuan dari putrinya. “Jawaban lamaran ini sepenuhnya hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami,” ujar sang ayah kepada mereka berdua.

Namun apa sebenarnya jawaban wanita tersebut? Jawaban iya atau tidak untuk Salman.

Ternyata wanita sholihah tersebut, dengan hati berdebar, telah mendengar percakapan ayahnya, bersama dua orang pemuda shahabat Rasulullah SAW tersebut dari balik hijab di dalam kamarnya.

Mewakili sang putri, ibunya pun berkata, “Mohon maaf kami harus berterus terang,” ujarnya membuat Salman dan Abu Darda tegang menanti jawaban.

“Maaf atas keterusterangan kami. Putri kami menolak Salaman.”

Sang bunda melanjutkan, “Namun jika Abu Darda memiliki tujuan yang sama, maka putri kami lebih memilih Abu Darda sebagai calon suaminya.”

Jawaban ibu wanita tersebut tentu saja akan menghancurkan hati Salman. Namun Salman tegar mendengar jawabannya. Salman menerima ketentuan tersebut dengan ikhlas dan ridho, karena dia meyakini Allah SWT memiliki rencana yang lebih baik untuk dirinya. Bahkan reaksinya luar biasa, dengan berbesar hati dia berkata, “Allahu Akbar!”

Tak hanya itu bahkan Salman menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Tanpa perasaan hati yang hancur, dia memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi wanita tersebut. “Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini, akan aku serahkan pada Abu Darda, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” ujar Salman dengan kelapangan hati yang begitu hebat.

Betapa indahnya kebesaran hati Salman al-Farisi yang begitu faham bahwa cinta, kepada seorang wanita tidaklah memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum melaksanakan ijab qabul diikrarkan, cinta tidak menghalalkan hubungan dua insan. Tak hanya itu, ia juga sangat faham akan arti persahabatan sejati.[]

Sumber: Giat Berdakwah Merajut Ukhuwah/ Penulis: Umar Hidayat/ Penerbit: Pro-U Media/ 2016

1 Comment
  1. Mashudi says

    Mantap jiwa. Satu tujuan “Ridho Allah”.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline